— Omaha – Investor legendaris Warren Buffett mengeluarkan peringatan keras bagi para pelaku pasar modal global. Ia menyoroti maraknya spekulasi di pasar saham dan lonjakan biaya fantastis untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

“Sangat sulit menemukan harga saham yang masuk akal ketika semua orang lebih memilih berjudi,” ujar pimpinan Berkshire Hathaway tersebut.

Buffett menilai, dinamika pasar telah bergeser dan lebih memihak kepada para spekulan dibanding investor jangka panjang. “Manusia sangat suka berjudi. Bahkan, uang yang berputar untuk memfasilitasi para penjudi kini jauh lebih besar daripada yang dialokasikan untuk mendidik investor sejati,” tegasnya.

Spekulasi Merajai Pasar

Peringatan Buffett ini memicu perhatian luas dari para pengamat pasar. Chief Investor Black Bear Value Partners Adam Schwartz menilai pesan Buffett bukanlah ajakan untuk menjauhi AI, melainkan imbauan agar investor lebih berhati-hati saat spekulasi mulai mendominasi penentuan harga saham.

“Buffett selalu percaya pada akhirnya fundamental perusahaan tetap menjadi yang utama. Sayangnya, modal investor saat ini lebih mengejar sensasi dibanding arus kas (cash flow),” kata Schwartz.

Sementara itu, Profesor Keuangan Universitas Maryland David Kass mencermati kehati-hatian ekstrem Buffett tecermin dari cadangan kas Berkshire Hathaway yang mencapai rekor fantastis sebesar US$ 380 miliar (sekitar Rp 6.100 triliun) pada akhir Maret 2026.

Dilema Pengeluaran AI dan Taruhan di Alphabet

Salah satu poin utama yang disoroti Buffett adalah pengeluaran para raksasa teknologi (hyperscalers) seperti Meta, Microsoft, dan Alphabet. Perusahaan-perusahaan ini menggelontorkan ratusan miliar dolar AS untuk membeli mikroprosesor, membangun pusat data (data center), serta infrastruktur AI lainnya.

“Itu uang nyata. Itulah permainan yang sedang mereka jalankan sekarang, berbeda dengan saat mereka sekadar mengembangkan perangkat lunak (software),” ujar Buffett.

Besarnya belanja modal tersebut dinilai berisiko menggerus arus kas yang sebelumnya digunakan untuk aksi buyback saham, serta membuka potensi kerugian jika investasi AI tersebut tidak membuahkan hasil sepadan.

Akan tetapi, di tengah kekhawatiran tersebut, Buffett membuat langkah mengejutkan dengan mengonfirmasi bahwa Berkshire Hathaway telah berinvestasi di Alphabet (induk usaha Google). Berkshire terus menambah porsi kepemilikan sahamnya hingga mencapai hampir 58 juta lembar per 31 Maret 2026, dengan nilai saat ini mencapai US$ 20,5 miliar.

Bahkan, di bawah kepemimpinan Greg Abel sebagai CEO baru, Berkshire kembali menyuntikkan dana US$ 10 miliar ke Alphabet melalui mekanisme private placement pada Juni 2026. Nilai taruhan tersebut melonjak hingga mendekati US$ 31 miliar, menjadikan Alphabet sebagai aset terbesar ketiga di portofolio saham Berkshire setelah Apple dan American Express, melampaui Coca-Cola.

“Berdasarkan rekam jejaknya, saya menilai Alphabet memiliki peluang menang lebih tinggi dibanding 90% hingga 95% produk yang diperjualbelikan di Wall Street,” terang Buffett.

Melalui langkah ini, Buffett mengirimkan sinyal jelas kepada pasar: di tengah kondisi pasar yang sedang memanas (red-hot market), investor dituntut untuk lebih selektif dan disiplin dalam memilih instrumen investasi.

Gelombang investasi di sektor AI telah memicu reli besar-besaran pada indeks saham global sepanjang beberapa tahun terakhir, yang dipimpin oleh kelompok perusahaan teknologi raksasa. Fenomena ini memicu perdebatan di kalangan ekonom dan investor kawakan mengenai potensi munculnya gelembung ekonomi (economic bubble) baru, serupa dengan krisis dot-com pada awal 2000-an.

Di tengah lonjakan valuasi saham berbasis ekspektasi AI, strategi investasi nilai (value investing) yang dipelopori Warren Buffett menjadi salah satu acuan utama bagi investor global dalam menilai kestabilan fundamental perusahaan dan risiko spekulasi pasar.