— Pasar emas di Asia menunjukkan tanda-tanda pelemahan permintaan. Di India, diskon untuk emas terus diperpanjang selama tujuh pekan berturut-turut akibat lesunya minat beli pasca kenaikan harga di awal pekan. Namun, di sisi lain, China, sebagai konsumen emas terbesar di dunia, justru mencatat peningkatan minat beli.

Menurut data yang dikutip dari Yahoo! News pada Senin (27/7/2026), harga emas domestik di India diperdagangkan di kisaran 141.800 rupee per 10 gram pada Jumat. Angka ini turun dari harga puncak 146.000 rupee yang sempat tercatat sebelumnya. Para pedagang di India melaporkan minimnya kunjungan ke toko perhiasan, dengan pembeli ritel memilih untuk menunggu koreksi harga yang lebih signifikan sebelum memutuskan untuk membeli.

Para pedagang emas di India saat ini menawarkan diskon hingga US$ 56 per ons di atas harga domestik resmi pada minggu ini. Angka ini sudah termasuk bea impor 15% dan bea penjualan 3%. Diskon ini lebih besar dibandingkan dengan pekan sebelumnya yang hanya mencapai US$ 45. Sentimen pasar dilaporkan tetap lesu, dan para pedagang perhiasan tidak memprediksi adanya pemulihan permintaan dalam waktu dekat.

Sementara itu, kondisi berbeda terlihat di China. Harga emas domestik di negara tersebut diperdagangkan dengan premi US$ 3 hingga US$ 6 per ons di atas harga spot patokan global. Premi ini sedikit menguat dibandingkan minggu sebelumnya yang berada di kisaran harga yang sama hingga premi US$ 7.

Peter Fung, kepala perdagangan di Wing Fung Precious Metals, menyatakan bahwa premi minggu ini sedikit lebih kuat karena pasar mencatat peningkatan permintaan fisik dan minat beli. Ia menambahkan bahwa harga emas di level US$ 4.000 bertindak sebagai level support yang baik.

Sebelumnya, harga emas spot pada Senin (27/7/2026) tercatat naik 1,4% menjadi US$ 4.110,56 per troy ounce pada pukul 02.00 waktu Inggris. Kontrak berjangka emas AS juga mengalami kenaikan 1% menjadi US$ 4.112,10 per troy ounce.