— Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini diprediksi masih berada dalam fase konsolidasi. Indeks gagal mempertahankan momentum penguatan yang sempat terjadi sebelumnya.

Secara teknikal, IHSG kembali tidak mampu menembus area resistance kuat di level 6.377. Kondisi ini mengindikasikan tekanan jual masih cukup dominan. Kegagalan breakout tersebut membuka peluang terjadinya aksi profit taking dalam jangka pendek.

“Selama IHSG belum mampu ditutup secara meyakinkan di atas level 6.377 yang didukung peningkatan volume transaksi, maka ruang penguatan diperkirakan masih terbatas dan potensi koreksi masih lebih besar dibandingkan peluang melanjutkan tren kenaikan,” kata pengamat pasar modal dan pendiri Republik Investor, Hendra Wardana dalam keterangannya, Senin (27/7/2026).

Apabila tekanan jual terus berlanjut, IHSG berpotensi menguji area Moving Average 20 (MA20) yang berada di kisaran 6.009. Area tersebut menjadi support dinamis yang cukup penting untuk menjaga struktur rebound jangka pendek.

Selama MA20 mampu dipertahankan, peluang terjadinya technical rebound masih terbuka. Namun, jika level tersebut ditembus, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju area support psikologis berikutnya di kisaran 5.900.

“Karena itu, pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan indeks bertahan di atas area support tersebut,” ungkap Hendra.

Sentimen Eksternal Memberi Tekanan

Dari sisi sentimen eksternal, pasar saham domestik masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, sehingga mendorong lonjakan harga minyak dunia yang sempat mendekati level US$ 100 per barel.

Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa tekanan inflasi global dapat kembali meningkat. Hal ini membatasi ruang bagi bank-bank sentral utama dunia, terutama The Federal Reserve, untuk segera menurunkan suku bunga.

Sentimen ini turut memicu koreksi di mayoritas bursa saham Asia. Pelemahan tajam terjadi di Korea Selatan, Jepang, Taiwan, hingga China, yang memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan IHSG.

Dolar Menguat, Rupiah Melemah

Di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat yang mendorong nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp 18.000 per dolar AS menjadi faktor yang turut membebani pasar keuangan domestik.

Pelemahan rupiah meningkatkan risiko keluarnya dana asing dari aset-aset di negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor global cenderung mengalihkan dananya ke aset yang lebih aman. Kondisi ini membuat volatilitas pasar saham domestik berpotensi meningkat dalam jangka pendek.

Tekanan itu tercermin dari kembali derasnya aksi jual investor asing di Bursa Efek Indonesia. Pada perdagangan Jumat (24/7), investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) sekitar Rp 1,2 triliun. Secara akumulatif sepanjang pekan lalu, investor asing telah mencatatkan net sell sekitar Rp 2,5 triliun.

Arus keluar dana asing ini menunjukkan bahwa pelaku pasar global masih mengambil sikap wait and see di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia. “Selama arus dana asing belum kembali masuk secara konsisten, peluang penguatan IHSG diperkirakan masih akan relatif terbatas,” tutur Hendra.

Dengan kombinasi tekanan teknikal akibat gagalnya menembus resistance 6.377, meningkatnya risiko geopolitik, penguatan dolar AS, pelemahan rupiah, tingginya harga minyak dunia, serta masih derasnya aksi jual investor asing, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan cenderung bergerak defensif dengan volatilitas yang tinggi.

Investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah, serta arus dana asing sebagai katalis utama yang akan menentukan arah pergerakan IHSG dalam beberapa waktu ke depan.