Detak.news — Ketegangan di kawasan Timur Tengah dilaporkan kembali memasuki babak kritis. Militer Amerika Serikat (AS) dikabarkan tengah mempersiapkan diri untuk melancarkan serangan militer berskala besar terhadap Iran. Langkah ini ditandai dengan pengerahan dan penumpukan kekuatan militer AS secara masif di wilayah tersebut.
Laporan dari The Washington Post, yang mengutip keterangan pejabat otoritas AS, pada Senin (20/7/2026) menyebutkan bahwa AS terus memperkuat posisinya di kawasan. Senada dengan laporan tersebut, The Wall Street Journal memberitakan AS mengirimkan armada pesawat tempur dan pesawat pengisi bahan bakar tambahan langsung dari pangkalan mereka di Eropa.
“AS sedang merencanakan perang yang lebih luas,” ungkap seorang pejabat AS yang mengetahui dinamika diskusi internal di jajaran pemerintahan, Senin.
Meskipun demikian, sejumlah sumber internal mengakui bahwa kemampuan AS untuk membendung atau melancarkan operasi militer skala besar dalam jangka panjang masih dibayangi oleh keterbatasan stok amunisi yang kian menipis.
Eskalasi Konflik yang Kian Memanas
Rencana serangan balasan AS ini terpicu oleh jatuhnya korban dari pihak militer mereka. Komando Pusat AS (CENTCOM) telah mengonfirmasi tewasnya dua prajurit AS di Yordania, disusul penemuan beberapa jenazah yang belum teridentifikasi di lokasi sekitar.
Selain itu, seorang prajurit AS lainnya dilaporkan tewas di Irak akibat serangan drone yang diduga diluncurkan oleh militer Iran.
Sebelum insiden ini terjadi, AS dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 18 Juni 2026 untuk menghentikan bentrokan yang telah bergejolak sejak 28 Februari 2026. Namun, gencatan senjata tersebut tidak bertahan lama.
Pada 8 Juli 2026, militer AS kembali menggempur wilayah Iran dengan dalih merespons gangguan Iran terhadap jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz. Pihak Iran menilai tindakan AS tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap kesepakatan damai dan meresponsnya dengan melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Konflik antara AS dan Iran memiliki rekam jejak ketegangan geopolitik yang panjang dan kompleks, terutama berpusat pada program nuklir Iran, pengaruh regional di kawasan Timur Tengah, serta keamanan jalur energi global.
Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang melayani transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia, kerap menjadi titik panas sengketa. Iran berulang kali mengancam atau melakukan penyitaan terhadap kapal tanker asing sebagai respons atas sanksi ekonomi berat yang dijatuhkan Washington.
Di sisi lain, AS menempatkan ribuan personel militer di pangkalan strategis seperti di Irak, Yordania, dan kawasan Teluk untuk mengimbangi pengaruh Iran serta melindungi sekutu-sekutunya. Pelanggaran berulang terhadap kesepakatan damai dan saling balas serangan ini memicu kekhawatiran global akan meletusnya perang terbuka yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dunia.
Ikuti Detak.news
