— PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasian yang solid pada semester I-2026 sebesar Rp 30,4 triliun, tumbuh 24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini setara dengan 51% dari proyeksi tahunan dan 53% dari konsensus analis, menunjukkan kinerja yang sesuai ekspektasi.

Pada kuartal II-2026, laba bersih Bank Mandiri tercatat Rp 15 triliun, meningkat 33,5% secara tahunan, meskipun mengalami sedikit penurunan 2,3% dibandingkan kuartal sebelumnya. Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) meningkat 19,9% menjadi Rp 44,2 triliun, didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 8% dan pertumbuhan pendapatan non-bunga sebesar 14,9%.

Biaya kredit (CoC) Bank Mandiri menunjukkan perbaikan, turun menjadi 0,61% dari 0,66% pada semester I-2025, atau turun 5 basis poin secara tahunan. Beban pencadangan juga berkurang 12,5% menjadi Rp 5,1 triliun, turut mendukung pertumbuhan laba perseroan.

Total kredit Bank Mandiri melesat 19% secara tahunan atau 4% secara kuartalan menjadi Rp 1.677 triliun. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh segmen korporasi yang naik 34% dan segmen komersial yang tumbuh 15%.

Sementara itu, dana murah (CASA) Bank Mandiri tumbuh 5,7% menjadi Rp 1.220 triliun. Namun, rasio CASA mengalami penurunan menjadi 69,2% dari 76,6% pada semester I-2025, mengindikasikan adanya penyusutan porsi dana murah terhadap total dana pihak ketiga.

Manajemen Bank Mandiri merevisi turun panduan margin bunga bersih (NIM) untuk tahun 2026 menjadi 4,3-4,5%, dari estimasi sebelumnya 4,5-4,7%. Tekanan terhadap NIM diprediksi berlanjut pada kuartal III-2026 sebelum stabil pada kuartal IV-2026.

MNC Sekuritas merekomendasikan beli saham BMRI dengan target harga Rp 6.050. Target ini mencerminkan rasio price to book value (PBV) 1,8 kali untuk estimasi 2026 dan 1,7 kali untuk 2027. Dengan valuasi saat ini sebesar 1,6 kali PBV dan potensi imbal hasil dividen 7-8%, saham BMRI dinilai masih menarik.

Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah potensi perlambatan pertumbuhan kredit akibat pelemahan permintaan, yang dapat diperparah oleh ketegangan geopolitik, serta kemungkinan berlanjutnya penyusutan NIM.