Detak.news — Peluang perempuan untuk menduduki posisi strategis di dunia kerja kian terbuka lebar seiring perkembangan budaya kerja yang mengedepankan kompetensi. Namun, keberhasilan kepemimpinan perempuan tidak hanya bersumber dari kompetensi semata. Dibutuhkan ekosistem yang mendukung, meliputi sistem pendukung di keluarga, budaya kerja yang inklusif, serta keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, dan memanfaatkan peluang.
Hal ini terungkap dalam diskusi publik bertajuk “Empowering Women to Grow, Lead, and Thrive”, yang digelar bersamaan dengan peluncuran Komunitas Srikandi Yokke di Jakarta, Rabu (22/7/2026). Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Senior Vice President Human Capital Reward & Remuneration Bank Mandiri Votivia Mardinna, CEO MTI Sylvia Novieta, Chief Human Capital Officer AXA Mandiri Financial Services Elisabeth Evaty Dewi, Staf Ahli Menteri Bidang Sistem Pemasaran dan Infrastruktur Kementerian Ekonomi Kreatif Septriana Tangkary, serta Psikolog Sandra Handayani.
CEO PT Mitra Transaksi Indonesia (MTI/Yokke) Sylvia Novieta menjelaskan, kepemimpinan di era yang terus berubah menuntut kemampuan untuk beradaptasi, melihat peluang, dan menetapkan prioritas secara bijaksana. Pemimpin tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan masalah, tetapi juga mampu melihat peluang di balik setiap perubahan. “Kuncinya adalah berani mengambil kesempatan, beradaptasi, dan menetapkan prioritas agar dapat memberikan dampak terbaik bagi organisasi tanpa kehilangan makna peran di keluarga,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Sylvia mendorong perempuan untuk tidak ragu mengambil kesempatan memimpin. Menurutnya, organisasi saat ini semakin mengedepankan kompetensi dibandingkan gender dalam menilai seseorang. “Ketika kita percaya pada kemampuan diri sendiri dan berani mengambil peluang, ruang untuk berkembang akan semakin terbuka,” tambah dia.
Sylvia menerangkan, Srikandi Yokke berbasis pada empat pilar utama: Wellness, Leadership, Digital Literacy, dan Upskilling Skills. Pilar-pilar ini dirancang untuk memperkuat kapabilitas serta kepemimpinan talenta perempuan di industri teknologi pembayaran. Berlandaskan semangat Srikandi Mandiri di ekosistem Mandiri Group, inisiatif ini hadir untuk memfasilitasi kemandirian, mendorong pertumbuhan karier yang berkelanjutan, sekaligus mengakselerasi transformasi digital nasional melalui lingkungan kerja yang inklusif.
Pernyataan ini sejalan dengan Votivia Mardinna yang menegaskan bahwa keberhasilan perempuan menjadi pemimpin tidak terlepas dari kuatnya sistem pendukung di rumah dan budaya kerja yang inklusif di perusahaan. Menurutnya, pengalaman di Bank Mandiri menunjukkan bahwa perempuan yang berhasil mencapai posisi kepemimpinan umumnya memiliki dukungan keluarga yang kuat, terutama dari pasangan, sehingga dapat terus berkembang dalam karier.
“Organisasi memegang peran penting melalui budaya kerja yang inklusif, kesempatan yang setara, serta lingkungan yang mendorong perempuan untuk bertumbuh dan berani mengambil peran kepemimpinan,” ujar Votivia.
Ia menyebutkan dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai kebijakan yang mendukung keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, seperti penyediaan fasilitas penitipan anak (daycare), fleksibilitas kerja, serta program pengembangan talenta perempuan. “Kehadiran Komunitas Srikandi YOKKE juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem tersebut melalui ruang berbagi pengalaman, pengembangan kapasitas, dan perluasan jejaring kepemimpinan perempuan,” ujar Votivia.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Sistem Pemasaran dan Infrastruktur Kementerian Ekonomi Kreatif, Septriana Tangkary, menilai transformasi digital telah membuka peluang yang lebih luas bagi perempuan untuk berkarya dan membangun usaha. Menurutnya, perkembangan teknologi seperti e-commerce, kecerdasan buatan (artificial intelligence), blockchain, dan Internet of Things memungkinkan perempuan membangun karier maupun bisnis dengan lebih mudah.
“Teknologi menghadirkan kesempatan yang semakin luas. Karena itu, perempuan perlu terus belajar, adaptif terhadap perubahan, dan tidak takut memulai dari langkah kecil,” ujar Septriana.
Peluncuran Komunitas Srikandi Yokke menjadi langkah nyata MTI dalam membangun wadah kolaborasi lintas pemangku kepentingan yang mendukung perempuan untuk belajar, bertumbuh, dan memimpin. Dengan semangat kolaborasi dan inklusivitas, komunitas ini diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan perempuan, memperluas jejaring, serta melahirkan lebih banyak pemimpin perempuan yang mampu memberikan kontribusi berkelanjutan bagi perusahaan, industri, dan masyarakat.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.