Detak.news — Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan lonjakan signifikan pada perdagangan Rabu (22/7/2026) pagi, berhasil menembus kembali level US$ 66.000. Meskipun sentimen pasar aset kripto secara umum membaik, para analis memperkirakan level psikologis US$ 68.000 akan menjadi ujian krusial. Level ini akan menentukan apakah reli Bitcoin akan berlanjut atau justru memicu aksi jual oleh investor.
Berdasarkan data dari CoinMarketCap per pukul 06.45 WIB, kapitalisasi pasar aset kripto global tercatat naik 1,12% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,25 triliun. Sementara itu, harga Bitcoin (BTC) hari ini melonjak 1,89% menjadi US$ 66.394,73 per koin, setara dengan sekitar Rp 1,18 miliar (dengan asumsi kurs Rp 17.918 per dolar AS).
Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, juga mengalami penguatan sebesar 1,81%. Aset kripto besar lainnya seperti Ethereum melonjak 1,21% ke US$ 1.923, sementara Binance (BNB) naik 0,41% ke US$ 572.
Bitcoin Mendekati Level Krusial
Harga Bitcoin (BTC) melanjutkan tren penguatannya sepanjang Juli 2026 dan kini mendekati level psikologis US$ 68.000. Level ini dianggap sebagai titik penting yang akan menentukan arah pergerakan aset kripto terbesar di dunia tersebut.
Posisi ini mencerminkan kenaikan sekitar 15% dari titik terendah yang dicapai pada awal Juli, sekaligus menjadi level tertinggi dalam lebih dari satu bulan terakhir. Namun, analis dari Bitfinex menekankan bahwa reli Bitcoin masih menghadapi tantangan signifikan.
Level US$ 68.000 diprediksi menjadi area resistensi kuat karena berdekatan dengan rata-rata harga beli investor selama lima bulan terakhir. Hal ini berpotensi memicu investor yang sebelumnya merugi untuk menjual aset mereka saat kembali mencapai titik impas, sehingga menciptakan tekanan jual yang dapat menghambat kenaikan Bitcoin lebih lanjut.
Selain itu, US$ 68.000 juga merupakan puncak yang sempat dicapai pada pertengahan Juni sebelum harga Bitcoin mengalami penurunan drastis hingga di bawah US$ 58.000. “Uji pertama terhadap area resistensi ini diperkirakan akan memicu respons pasar yang cukup tajam,” ujar analis Bitfinex dalam laporan terbarunya.
Likuiditas dan Sentimen Pasar
Meskipun menghadapi tantangan, Bitfinex mencatat adanya perbaikan dalam kondisi pasar. Arus dana ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan tren positif setelah sebelumnya mengalami periode arus keluar (outflow) selama beberapa bulan.
Namun, permintaan secara keseluruhan dinilai belum pulih sepenuhnya. Aliran dana ke ETF maupun pembelian oleh perusahaan pemegang Bitcoin masih jauh di bawah level yang tercatat pada awal tahun.
Dominasi Bitcoin dalam pasar kripto juga terus meningkat. Saat ini, Bitcoin menguasai hampir 67% dari total volume perdagangan kripto spot, meningkat dari sekitar 50% pada tahun sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa investor cenderung lebih memilih Bitcoin dibandingkan aset kripto berkapitalisasi lebih kecil, mencerminkan sikap pasar yang masih cenderung defensif.
Sementara itu, riset dari K33 Research menyebutkan bahwa aktivitas perdagangan aset kripto masih berada dalam fase yang disebut ‘summer slumber’ atau perlambatan musiman yang lazim terjadi di pertengahan tahun.
Minat dari investor institusi terus menunjukkan penurunan, terbukti dari posisi terbuka (open interest) kontrak berjangka Bitcoin di CME yang kini berada pada level terendah sejak 2023. Volume transaksi spot juga masih terpantau rendah. Dalam 30 hari terakhir, volume perdagangan Bitcoin hanya mencapai sekitar 62% dari rata-rata tahunan. Selama sepekan terakhir, nilai transaksi harian rata-rata berkisar US$ 2,3 miliar, mendekati level terendah tahun ini.
Meskipun demikian, K33 Research melihat adanya indikasi bahwa tekanan jual mulai mereda. Arus dana keluar dari ETF Bitcoin telah berkurang secara signifikan dibandingkan bulan Mei dan Juni, meskipun investor baru belum kembali masuk dalam jumlah besar. Pola ini, menurut K33, merupakan karakteristik umum pasar kripto selama musim panas, di mana aktivitas perdagangan cenderung melemah sebelum kembali meningkat pada paruh kedua tahun ini.
Ikuti Detak.news
