Detak.news — NEW YORK – Indeks-indeks saham Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Selasa, mengakhiri tren pelemahan selama tiga hari berturut-turut. Penguatan ini didorong oleh reli saham semikonduktor dan laporan keuangan emiten yang mayoritas melampaui ekspektasi pasar.
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 385,38 poin atau 0,74% ke level 52.224,64. Indeks S&P 500 naik 0,89% menjadi 7.509,20, sementara Nasdaq Composite menguat 1,29% ke 25.837,21.
Sentimen positif berasal dari musim laporan keuangan kuartal II-2026. Hingga kini, sekitar 66 emiten anggota S&P 500 telah merilis kinerja, dan hampir 88% di antaranya berhasil membukukan laba di atas ekspektasi analis, berdasarkan data FactSet.
Saham 3M melesat lebih dari 7% setelah membukukan laba kuartal II yang melampaui perkiraan pasar. Sementara itu, General Motors naik hampir 5% setelah mencatatkan pendapatan dan laba yang lebih baik dari proyeksi analis.
Pelaku pasar kini menantikan laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi, termasuk Alphabet, IBM, dan Tesla, yang dijadwalkan rilis dalam beberapa hari ke depan.
Analis Investasi AS di eToro, Bret Kenwell, mengatakan dua pekan ke depan akan menjadi periode yang menentukan bagi pasar saham, terutama di tengah ekspektasi investor yang semakin tinggi.
“Perusahaan yang gagal memenuhi ekspektasi Wall Street kini langsung dihukum pasar. Setelah reli panjang hingga mencetak rekor, hasil yang sekadar baik saja belum tentu cukup untuk mengangkat harga saham,” ujarnya.
Saham Chip Jadi Motor Penguatan
Penguatan Wall Street dipimpin oleh saham-saham sektor semikonduktor yang kembali diburu investor setelah mengalami tekanan pada pekan lalu.
VanEck Semiconductor ETF (SMH) melonjak lebih dari 4%. Saham Micron Technology memimpin reli dengan kenaikan sekitar 12%, disusul Intel yang melesat 8%, Marvell Technology naik lebih dari 6%, dan Astera Labs menguat 3%.
Reli sektor chip membantu menutupi kekhawatiran investor terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik antara AS dan Iran. Militer AS dilaporkan melanjutkan serangan terhadap Iran untuk malam kesepuluh berturut-turut setelah Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata telah berakhir.
Sebagai balasan, Iran menyerang sejumlah aset militer AS di Timur Tengah, sementara kelompok Houthi mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi.
Meski demikian, muncul harapan baru setelah beredar laporan bahwa mediator internasional mengusulkan gencatan senjata selama 10 hari antara AS dan Iran untuk meredakan konflik.
Harga minyak tetap bergerak naik di tengah perkembangan tersebut. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 2% menjadi US$ 84,91 per barel, sedangkan Brent naik 2% ke US$ 91,01 per barel.
Ikuti Detak.news
