Detak.news — Harga emas berhasil mempertahankan level support krusial di kisaran US$ 4.000 per troy ounce selama lima pekan berturut-turut. Meskipun kenaikannya belum signifikan, sejumlah analis memandang prospek emas tetap bullish di pasar.
Analis mencatat bahwa meskipun emas belum mampu menembus level US$ 4.100 per troy ounce, tekanan jual yang dihadapi cenderung terbatas. Kenaikan harga emas yang tertahan ini dipengaruhi oleh sentimen memanasnya perang di Iran, yang memicu lonjakan harga energi global dan kekhawatiran inflasi. Situasi ini mendorong bank-bank sentral global untuk menerapkan kebijakan yang lebih agresif.
Analis Pasar Senior di FXTM, Lukman Otunuga, menyatakan bahwa pergerakan harga emas akan sangat bergantung pada data inflasi, mengingat banyaknya ketidakpastian seputar kebijakan moneter Amerika Serikat. “Pasar sekarang memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Juli sebesar 34%, dengan kecenderungan kuat pada bulan September. Tarif baru AS sebesar 10%–12,5% pada impor dari mitra dagang utama menambah ketidakpastian lain, mengancam efek inflasi putaran kedua yang memberi The Fed ruang gerak lebih sedikit. Pekan depan, sentimen masih dipenuhi geopolitik, keputusan The Fed, dan indeks harga PCE yang dapat memengaruhi bagaimana harga emas berakhir pada bulan Juli,” ungkap Otunuga.
Menurut Otunuga, tanda-tanda pendinginan tekanan inflasi bisa menjadi penyelamat bagi emas. Namun, dengan harga minyak yang masih bertahan di sekitar US$ 100, peluang pemulihan yang berkelanjutan masih sempit. “Pada akhirnya, harga emas di level US$ 4.000 tetap menjadi batas bawah struktural yang perlu diperhatikan,” katanya.
Otunuga menambahkan, penembusan yang jelas di bawah level US$ 4.000 dapat membuka peluang koreksi harga emas menuju US$ 3.950 dan US$ 3.900. “Jika level ini bertahan, emas mungkin akan pulih menuju US$ 4.100 dan US$ 4.200,” bebernya.
Meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga dapat membebani emas, analis percaya bahwa konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah menciptakan titik balik potensial bagi logam mulia. Simon-Peter Massabni, Kepala Pengembangan Bisnis di XS.com, berpendapat, “Jika harga minyak yang lebih tinggi terus memicu inflasi sekaligus membebani aktivitas ekonomi dan kondisi pasar tenaga kerja, kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan pada akhirnya dapat mengalahkan kekhawatiran inflasi.”
Massabni melanjutkan, “Pada tahap itu, investor kemungkinan akan beralih kembali ke aset defensif, dengan emas berpotensi diuntungkan, terutama jika pasar mulai memperhitungkan siklus pelonggaran kebijakan moneter di masa depan dari Federal Reserve.”
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.