— Militer Rusia melancarkan salah satu serangan rudal balistik terbesar ke ibu kota Ukraina, Kyiv pada Senin (20/7/2025). Serangan ini memicu kehancuran dan korban jiwa, sementara balasan dari Ukraina berupa serangan drone ke wilayah Rusia turut meningkatkan eskalasi konflik.

Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko melaporkan sedikitnya satu orang tewas dan 15 luka-luka di Kyiv setelah bangunan tempat tinggal, gudang, supermarket, hingga asrama mengalami kerusakan parah akibat gempuran rudal balistik dan drone Rusia pada Minggu (19/7/2026) waktu setempat. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut gempuran ke Kyiv tersebut sebagai salah satu serangan balistik paling masif sejak invasi skala penuh Rusia dimulai pada 2022.

Menurut laporan Angkatan Udara Ukraina, mereka berhasil mencegat 18 rudal dan 108 dari 126 drone yang diluncurkan Rusia, termasuk 25 rudal balistik. Serangan Rusia juga dilaporkan menewaskan tiga orang lainnya di wilayah Kharkiv.

Balasan Mematikan Ukraina dan Ancaman Minyak Dunia

Hujan rudal Rusia terjadi hanya sehari setelah serangan drone Ukraina menghancurkan dua gudang milik Wildberries, perusahaan e-commerce terbesar Rusia, serta sebuah depot minyak. Serangan Ukraina yang menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai lebih dari 80 orang tersebut diklaim sebagai serangan paling mematikan di dalam wilayah Rusia dalam lebih dari dua tahun terakhir.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan telah menjatuhkan 379 drone di 19 wilayah. Namun, Presiden Zelensky menegaskan bahwa fasilitas yang ditargetkan oleh Ukraina digunakan Rusia untuk menyalurkan komponen terlarang guna memproduksi drone dan peralatan navigasi.

Eskalasi aksi saling serang ini semakin mengincar kompleks energi Rusia. Pekan lalu, drone laut Ukraina dilaporkan menghantam dua kapal tanker minyak mentah berukuran besar yang terhubung dengan Rusia, Louise 1 dan Banda, di Laut Hitam. Jalur maritim ini menyalurkan lebih dari 20% ekspor minyak mentah Rusia.

Setiap gangguan pada ekspor minyak Rusia berpotensi memperparah kondisi pasar global yang sudah tertekan akibat konflik AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz. “Setiap pengurangan ekspor minyak mentah Rusia dapat mendorong harga melambung jauh melampaui USD 100 per barel,” ujar Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow.

Peringatan Keras NATO

Di tengah memanasnya pertempuran, Ketua Komite Militer NATO Giuseppe Cavo Dragone menegaskan bahwa aliansi pertahanan Barat siap menghadapi setiap pergerakan Rusia di kawasan Eropa Timur. Negara-negara Baltik seperti Lithuania, Latvia, Estonia, dan Polandia dilaporkan telah memperketat pertahanan infrastruktur krusial mereka.

“Moskow akan kehilangan sangat banyak, jauh lebih besar daripada apa yang bisa mereka dapatkan, hanya dengan menyentuh Polandia atau negara-negara Baltik. Dan kami sangat siap,” tegas Cavo Dragone. Meskipun demikian, Dragone juga menyebut tujuan utama NATO tetaplah gencatan senjata dan negosiasi menuju perdamaian jangka panjang bagi Ukraina.

Di sisi lain, Presiden Zelensky terus mendesak bantuan sistem pertahanan udara tambahan dari sekutu. Ia mengungkapkan, pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Ukraina telah mencapai kesepakatan politik terkait lisensi produksi rudal pencegat Patriot yang diharapkan dapat mulai diproduksi pada akhir tahun.

Perang antara Rusia dan Ukraina yang berlangsung sejak Februari 2022 telah memasuki fase perang atrisi (war of attrition) yang kian intensif, ditandai dengan serangan jarak jauh menggunakan rudal balistik dan teknologi drone terhadap infrastruktur strategis kedua negara.

Kegagalan mencapai kesepakatan damai serta meningkatnya keterlibatan industri pertahanan Barat dalam memperkuat Ukraina semakin memicu kekhawatiran akan keterlibatan langsung aliansi NATO. Ketegangan di wilayah perbatasan Eropa Timur serta gangguan pada rantai pasok energi di Laut Hitam dan Timur Tengah kini menjadi ancaman ganda yang menekan stabilitas ekonomi dan keamanan global.