— JAKARTA – Ribuan mahasiswa di India memadati jalanan ibu kota New Delhi untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah terkait maraknya kasus kebocoran soal ujian nasional dan krisis pada sistem pendidikan. Gelombang protes ini menjadi tekanan signifikan bagi pemerintahan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi.

Aparat kepolisian dilaporkan menggunakan gas air mata dan pentungan untuk membubarkan massa yang berarak menuju gedung parlemen. Pemimpin gerakan Cockroach Janta Party (CJP) menyatakan akan terus melanjutkan aksi damai hingga seluruh tuntutan dipenuhi, meskipun salah satu tokoh senior Partai Bharatiya Janata (BJP) telah mengimbau para demonstran untuk menghentikan aksi.

Tuntutan utama massa adalah pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan, namun kemarahan publik juga diarahkan langsung kepada PM Modi, mencerminkan kejenuhan yang lebih luas terhadap jajaran pemerintahannya. Kelompok oposisi turut memberikan dukungan penuh dalam mendesak sang menteri untuk mundur.

Parlemen Lumpuh dan Isu Ekonomi

Eskalasi protes di jalanan berdampak langsung pada dinamika politik nasional. Anggota dewan dari fraksi oposisi berulang kali menginterupsi sidang pembukaan parlemen, memaksa penundaan beberapa kali. Oposisi berencana memanfaatkan momentum sidang untuk mencecar pemerintah terkait lonjakan harga kebutuhan pokok dan dugaan korupsi pada proyek pembangunan Candi Ram di Ayodhya.

Lonjakan harga minyak mentah dunia dan curah hujan rendah akibat cuaca buruk menjadi ancaman ganda bagi inflasi dan stabilitas ekonomi India. Meskipun PM Modi sempat memperkuat posisi politiknya melalui kemenangan di pemilihan negara bagian, gelombang protes mahasiswa ini menjadi sinyal ketidakpuasan publik yang dapat menguji daya tahan politik BJP menjelang pemilu mendatang.

Seorang politikus senior BJP, Amit Malviya, menegaskan sikap pemerintah melalui akun X (Twitter) miliknya, menyatakan, “Demokrasi India dibentuk melalui kotak suara, bukan lewat kekerasan terorganisasi di jalanan. Mandat rakyat tidak bisa diganggu gugat oleh pihak-pihak yang menolak untuk menerimanya.”

Skandal Kebocoran Ujian Nasional

Aksi duduk di pusat kota Delhi telah berlangsung sejak 20 Juni 2026, diwarnai aksi mogok makan oleh aktivis terkemuka Sonam Wangchuk. Puncaknya, demonstran merencanakan aksi “long march” menuju parlemen bertepatan dengan dimulainya masa sidang musim hujan.

Demonstrasi besar-besaran ini dipicu oleh skandal kebocoran soal dan kecurangan sistemik pada ujian masuk perguruan tinggi nasional, seperti National Eligibility cum Entrance Test (NEET) untuk fakultas kedokteran dan UGC-NET untuk kualifikasi pengajar/peneliti. Ujian vital yang diikuti jutaan siswa setiap tahunnya ini dibatalkan atau ditunda setelah ditemukannya bukti kebocoran soal dan penyimpangan nilai.

Kejadian ini memicu kemarahan publik yang luar biasa karena dinilai merusak masa depan generasi muda dan mencoreng integritas lembaga pendidikan India. Penanganan yang dinilai lamban oleh Kementerian Pendidikan India mempercepat peralihan kekecewaan siswa dan orang tua menjadi gerakan protes politik yang lebih luas menuntut transparansi serta reformasi pemerintahan.