— Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengumumkan bahwa hasil uji jalan bahan bakar biodiesel B50 menunjukkan performa yang lebih baik jika dibandingkan dengan pengujian B35 sebelumnya. Namun, hasil tersebut masih bersifat awal karena pengujian baru menempuh sekitar 50.000 kilometer dan belum mencakup seluruh merek kendaraan diesel.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menyatakan bahwa penilaian ini didasarkan pada hasil uji lapangan B50 yang telah dilakukan oleh pemerintah bersama sejumlah agen pemegang merek (APM) kendaraan diesel.

“Bahkan ada informasi, itu hasilnya lebih baik ketimbang pada waktu dilakukan percobaan dengan B35,” ujar Kukuh saat dihubungi, Minggu (19/7/2026). Ia menegaskan bahwa hasil yang dimaksud berasal dari pelaksanaan uji lapangan.

Biodiesel B50 merupakan bahan bakar diesel yang terdiri dari 50% biodiesel yang berasal dari minyak sawit dan 50% solar. Bahan bakar ini merupakan kelanjutan dari program mandatori biodiesel setelah implementasi B35 dan B40. Perbedaan utama ketiga jenis bahan bakar ini terletak pada kandungan biodieselnya, di mana B35 memiliki 35% biodiesel dan 65% solar, sedangkan B50 memiliki komposisi yang seimbang.

Dengan porsi biodiesel yang lebih besar, B50 diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor solar berbasis minyak bumi. Mengacu pada hasil pengujian awal, Kukuh menyebut B50 menunjukkan kinerja yang baik dan dapat digunakan pada kendaraan diesel yang menjadi peserta uji coba.

“Sampai kurang lebih 50.000 kilometer percobaan, itu menghasilkan, hasilnya bisa diterima, cukup baik, ya, artinya itu bisa digunakan untuk kendaraan-kendaraan diesel di Indonesia,” kata Kukuh.

Pengujian dilakukan terhadap beberapa segmen kendaraan, meliputi mobil penumpang bermesin diesel, truk, dan bus. Hal ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal mengenai performa B50 pada berbagai jenis kendaraan.

“Yang diuji lapangan itu ada kendaraan penumpang, tapi mesinnya diesel, ya. Kemudian juga ada truk, dan juga ada bus,” jelasnya.

Kukuh menambahkan bahwa Gaikindo berpartisipasi melalui anggota yang memproduksi dan memasarkan kendaraan diesel. Sementara itu, pelaksanaan pengujian beserta pengelolaan data teknis sepenuhnya berada di bawah koordinasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Gaikindo terlibat langsung, tapi yang mengelola itu adalah ESDM. Jadi Gaikindo anggotanya itu berpartisipasi, tapi pengelola uji coba ini adalah pemerintah, dalam hal ini ESDM,” katanya.

Meskipun hasil awal menunjukkan prospek yang positif, Kukuh mengingatkan bahwa pengujian masih terbatas. Uji jalan baru mencapai sekitar 50.000 kilometer dan belum melibatkan seluruh merek maupun tipe kendaraan diesel yang beredar di Indonesia.

Oleh karena itu, menurutnya, hasil tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan dampak penggunaan B50 terhadap seluruh kendaraan diesel dalam jangka panjang. “Betul, itu kan baru 50.000 kilometer ya. Dan brand-brand-nya terbatas gitu kan. Enggak semua merek ikut, gitu,” tandas dia.