— Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penurunan pada Selasa (21/7/2026), setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir empat pekan. Faktor utama yang menekan pergerakan CPO adalah aksi ambil untung oleh investor dan melemahnya harga minyak nabati global.

Berdasarkan data BMD, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Agustus 2026 tercatat anjlok 33 Ringgit Malaysia menjadi 4.535 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka September 2026 juga jatuh 34 Ringgit Malaysia ke angka 4.574 Ringgit Malaysia per ton.

Selanjutnya, kontrak berjangka CPO Oktober 2026 terkoreksi 33 Ringgit Malaysia menjadi 4.610 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak November 2026 turun 28 Ringgit Malaysia menjadi 4.645 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Desember 2026 terpangkas 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.679 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Januari 2027 melemah 26 Ringgit Malaysia ke posisi 4.735 Ringgit Malaysia per ton.

Sentimen pasar turut tertekan oleh pelemahan harga minyak nabati di Bursa Dalian, China, dan Bursa Chicago (CBOT). Hal ini mengurangi daya tarik minyak sawit di pasar internasional. Selain itu, harga minyak mentah yang lebih rendah juga mengurangi dukungan terhadap komoditas bahan baku biofuel. Pelemahan minyak mentah terjadi setelah muncul laporan upaya mediasi baru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Impor India Anjlok

Tekanan terhadap harga CPO semakin besar menyusul laporan bahwa impor minyak sawit India pada bulan Juni turun ke level terendah dalam 14 bulan terakhir. Penurunan ini dipicu oleh menyempitnya selisih harga minyak sawit dengan minyak nabati pesaing, yang membuat pembeli di India mengurangi volume pembelian mereka.

Meskipun demikian, pelemahan harga CPO tertahan oleh kekhawatiran mengenai pasokan global. Badan Meteorologi Malaysia telah memperingatkan bahwa suhu udara pada tahun depan berpotensi mencapai rekor tertinggi seiring menguatnya fenomena El Niño. Fenomena ini dapat mengurangi produktivitas perkebunan kelapa sawit.

Peringatan serupa juga disampaikan oleh U.S. Climate Prediction Center, yang menyebutkan bahwa El Niño semakin menguat pada bulan lalu dan diperkirakan akan bertahan hingga awal tahun 2027. Sementara itu, data ekspor minyak sawit Malaysia untuk periode 1 hingga 20 Juli menunjukkan hasil yang beragam. Lembaga survei AmSpec Agri Malaysia melaporkan ekspor turun 0,9% dibandingkan periode yang sama pada Juni. Sebaliknya, Intertek Testing Services (ITS) memperkirakan ekspor justru meningkat 4,1%. Perbedaan data ini membuat pelaku pasar masih berhati-hati dalam menilai prospek permintaan global dalam jangka pendek.