Detak.news — Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026) waktu setempat. Pelemahan ini dipicu oleh munculnya harapan baru untuk tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meskipun demikian, harga minyak tercatat masih membukukan kenaikan yang cukup berarti sepanjang pekan ini, seiring dengan berlanjutnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Mengutip data dari Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup ambles US$ 3,91 atau 3,88% menjadi US$ 96,78 per barel. Koreksi ini terjadi sehari setelah Brent sempat menembus level US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Meskipun mengalami penurunan, Brent masih mencatatkan kenaikan hampir 10% sepanjang pekan ini.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami pelemahan, turun US$ 2,88 atau 3,12% menjadi US$ 89,31 per barel. Secara mingguan, WTI masih membukukan penguatan sekitar 8,3%.
Pelemahan harga minyak ini dipicu oleh laporan yang menyebutkan bahwa China menginisiasi upaya untuk menghidupkan kembali perundingan damai antara AS dan Iran yang sempat terhenti. Namun, sejumlah sumber mengungkapkan bahwa peluang tercapainya kesepakatan masih menghadapi berbagai hambatan.
“Tak ada yang lebih disukai pasar selain harapan. Setiap sinyal bahwa konflik dapat diselesaikan langsung disambut positif oleh pelaku pasar,” kata Mitra Again Capital John Kilduff.
Meskipun harga minyak mengalami koreksi, pasar energi masih dibayangi oleh risiko gangguan pasokan akibat konflik yang terus memanas. Sepanjang pekan ini, harga minyak sempat melonjak tajam setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan rudal. Arus pelayaran di Selat Hormuz juga dilaporkan menurun drastis, sementara kelompok Houthi di Yaman kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah.
Analis senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan, kondisi pasar minyak saat ini masih sangat rapuh karena pasokan global tetap dalam posisi ketat. Menurutnya, situasi dapat berubah dengan cepat tergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah, sehingga pelaku pasar perlu terus mencermati dinamika geopolitik yang terjadi.
Ancaman Pasokan Minyak Global
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengancam akan memberikan ‘hukuman militer besar’ terhadap Iran dan kelompok Houthi setelah terjadinya serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Iran juga disebut mendorong Houthi untuk menutup jalur Bab el-Mandeb apabila AS terus melakukan serangan terhadap infrastruktur strategis Iran. Jalur tersebut merupakan salah satu rute pengiriman energi terpenting di dunia, setara dengan Selat Hormuz.
Selain itu, Houthi telah mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, yang selama ini mengalihkan ekspor minyaknya melalui jaringan pipa untuk menghindari potensi gangguan di Selat Hormuz. Meskipun demikian, data pelacakan kapal menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran mulai menunjukkan perbaikan. Berdasarkan data Kpler, lalu lintas kapal komoditas di Bab el-Mandeb dilaporkan meningkat menjadi 32 kapal pada 23 Juli, naik dari 26 kapal pada sehari sebelumnya.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, kapal-kapal masih tetap beroperasi sehingga blokade yang dikhawatirkan pasar belum terjadi secara penuh. Sementara itu, JPMorgan memperkirakan setiap tambahan satu bulan gangguan pasokan minyak dapat mendorong harga Brent naik sekitar US$ 7-8 per barel. Jika gangguan berlangsung hingga tiga bulan, rata-rata harga Brent diproyeksikan dapat mencapai sekitar US$ 114 per barel.
Di sisi lain, risiko terhadap pasokan energi global juga datang dari kawasan Eropa. Rusia melaporkan telah menyerang tiga pelabuhan Ukraina yang menjadi pusat infrastruktur energi dan logistik. Sementara itu, Kazakhstan terpaksa memangkas sementara produksi minyaknya setelah terminal ekspor utamanya di Laut Hitam ditutup akibat dugaan serangan drone Ukraina.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.