— Indeks saham Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (22/7/2026) waktu setempat. Lonjakan harga minyak mentah akibat memanasnya konflik di Timur Tengah menekan sentimen pasar, memicu kekhawatiran inflasi akan tetap tinggi dan mendorong Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Indeks S&P 500 melemah tipis 0,14% ke level 7.498,96, sementara Nasdaq Composite turun 0,57% menjadi 25.690,90. Dow Jones Industrial Average nyaris tidak berubah, terkoreksi 6,06 poin atau 0,01% ke posisi 52.218,58.

Tekanan terhadap pasar dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah. Brent melejit sekitar 3,4% dan ditutup di US$ 94,07 per barel, level tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat sekitar 3% menjadi US$ 86,83 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke-11 secara berturut-turut terhadap Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington masih membuka peluang negosiasi, tetapi menilai Iran belum menunjukkan keseriusan. “Jika mereka serius, kami juga serius. Jika tidak, kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan sekutu kami,” kata Rubio. Ia juga menegaskan militer AS akan terus menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi, sehingga meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga. Senior Portfolio Manager Globalt Investments Thomas Martin mengatakan inflasi masih berada di level tinggi dan arah kebijakan suku bunga menjadi faktor utama yang membebani pasar. “Inflasi masih tinggi dan pertanyaan terbesar saat ini adalah ke mana arah suku bunga selanjutnya,” ujarnya.

Ekspektasi Suku Bunga The Fed

Data pasar menunjukkan ekspektasi kenaikan suku bunga terus meningkat. Berdasarkan kontrak berjangka federal funds, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan ini naik menjadi sekitar 34%, dari hanya 10% sepekan lalu. Peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September mencapai sekitar 78%, menurut data CME FedWatch Tool.

Perhatian Beralih ke Laporan Keuangan Eminten

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor kini tertuju pada musim laporan keuangan emiten. Sejumlah perusahaan teknologi besar dijadwalkan merilis kinerja kuartal II, termasuk Alphabet, Tesla, IBM, ServiceNow, dan Texas Instruments. Pelaku pasar akan mencermati prospek belanja kecerdasan buatan (AI), permintaan layanan komputasi awan (cloud), anggaran teknologi korporasi, serta panduan bisnis untuk paruh kedua tahun ini.

Menurut Martin, investor kini tidak hanya melihat apakah laba perusahaan melampaui ekspektasi, tetapi juga prospek pertumbuhan jangka panjang yang didorong investasi AI. “Kuncinya adalah pesanan baru. Investor ingin mengetahui seberapa lama siklus pertumbuhan AI dapat bertahan dalam satu hingga tiga tahun ke depan,” katanya.

Di tengah musim laporan keuangan, saham Super Micro Computer melonjak hampir 20% setelah produsen server tersebut memproyeksikan margin laba yang lebih tinggi dari perkiraan dan mengungkapkan telah memperoleh pesanan baru senilai lebih dari US$60 miliar pada kuartal fiskal keempat. Sementara itu, saham AT&T naik 3,5% setelah membukukan laba kuartalan yang melampaui ekspektasi analis. Sebaliknya, saham GE Vernova anjlok lebih dari 8% karena kinerja keuangannya gagal memenuhi proyeksi pasar.