Detak.news — Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah pada Kamis (23/7/2026). Serangan ini menambah kekhawatiran akan memburuknya krisis energi global.
Kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut dilaporkan menyasar kapal tanker Encelia dan Layla. Aksi ini diduga merupakan bagian dari strategi taktis yang terkoordinasi dengan Iran untuk menjepit dua jalur pasokan minyak utama dunia secara bersamaan, yaitu Laut Merah (melalui Selat Bab el-Mandeb) dan Selat Hormuz.
Sumber keamanan maritim melaporkan bahwa kapal Encelia sempat memancarkan sinyal bahaya setelah dihantam proyektil di dekat Pelabuhan Jizan, Arab Saudi. Akibat ancaman ini, sejumlah kapal tanker pengangkut minyak yang menuju China dan India dilaporkan terpaksa memutar balik dan mengubah rute pelayaran mereka.
Langkah Houthi ini berpotensi memutus rute alternatif minyak Saudi yang sebelumnya dialihkan ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk menghindari blokade Selat Hormuz. Jika Selat Bab el-Mandeb di selatan Laut Merah juga tertutup, kapal-kapal pengangkut minyak hanya dapat mengandalkan Terusan Suez di utara. Hal ini akan memakan waktu lebih lama dan secara signifikan membengkakkan biaya logistik.
Gempuran AS dan Ancaman Iran
Di sisi lain, militer Amerika Serikat (AS) terus menggempur Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) telah melancarkan serangan udara di berbagai wilayah Iran, termasuk di dekat reaktor nuklir Bushehr dan pos perbatasan Shalamcheh.
Menanggapi serangan AS dan ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan merusak infrastruktur Iran, Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz kini berada di bawah kendali penuh mereka dan ditutup rapat. Iran juga mengancam akan melumpuhkan fasilitas energi dan ekonomi di seluruh kawasan Timur Tengah jika infrastruktur mereka diserang, sehingga tidak ada satu tetes pun minyak yang bisa diekspor.
Konflik yang meluas ini tidak hanya merusak rantai pasok energi dan memicu inflasi global, tetapi juga menyebabkan korban jiwa yang terus berjatuhan dari kedua belah pihak, baik warga sipil di kawasan maupun personel militer AS.
Eskalasi Konflik Regional
Eskalasi besar di Laut Merah dan Selat Hormuz merupakan dampak dari pecahnya perang terbuka antara AS-Israel melawan Iran sejak 28 Februari 2026. Meskipun sempat dicapai memorandum gencatan senjata pada pertengahan Juni, kesepakatan damai tersebut runtuh total pada awal Juli 2026 setelah AS kembali menggelar operasi militer dengan dalih mengamankan pelayaran komersial internasional.
Penutupan dua jalur navigasi terpenting dunia, Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, menjadi kartu truf geopolitik Iran dan sekutunya untuk menekan perekonomian global. Kondisi ini membuat harga minyak mentah dunia melonjak tajam dan memberikan tekanan politik yang kuat bagi pemerintah AS menjelang pemilu legislatif mendatang.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.