Detak.news — Nilai tukar rupiah (IDR) kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. Rupiah ditutup melemah 27 poin atau 0,15% ke posisi Rp 17.963 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.936 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen pengetatan kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump secara resmi memberlakukan tarif impor baru terhadap barang dari 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, mulai Jumat. Kebijakan ini menetapkan tarif sebesar 10% dan 12,5% untuk berbagai produk impor.
Sentimen global terkait konflik di Timur Tengah juga turut menekan rupiah. Serangan kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran terhadap dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah kembali meningkatkan harga minyak dunia yang memang sudah tinggi.
Kondisi ini berdampak langsung pada kebutuhan impor energi Indonesia yang harus dipenuhi di tengah lonjakan harga minyak. Rata-rata kebutuhan impor energi Indonesia mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari. Saat ini, harga minyak mentah telah melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) perubahan, yaitu US$ 83 per barel.
“Rupiah kembali ke level Rp 18.000, sehingga pemerintah perlu menambah pasokan dolar AS untuk menutupi defisit tersebut. Kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menekan kinerja eksternal Indonesia, mulai dari melebarya defisit neraca transaksi berjalan hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada kuartal III 2026,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026).
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.