Detak.news — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026), anjlok 118,8 poin atau 1,88% ke level 6.196,4. Meskipun mayoritas saham terkoreksi, beberapa emiten unggulan seperti PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dan PT Indosat Tbk (ISAT) berhasil mencatat penguatan. AKRA melesat 2,48%, sementara ISAT menguat 0,78%.
Perdagangan hari itu mencatat total nilai transaksi sebesar Rp 17,6 triliun. Sebanyak 113 saham terpantau menguat, berbanding terbalik dengan 618 saham yang melemah dan 234 saham stagnan. Pelemahan merata terjadi di seluruh sektor saham, dengan sektor barang konsumen non-primer menjadi yang terdampak paling dalam, turun 3,04%. Sektor lain yang juga mengalami koreksi signifikan antara lain sektor barang baku (3,02%), energi (2,82%), dan transportasi (2,7%). Sektor keuangan, infrastruktur, dan perindustrian juga ikut tertekan masing-masing sebesar 2%, 1,63%, dan 1,47%. Sektor barang konsumen primer, teknologi, properti, dan kesehatan juga tidak luput dari pelemahan dengan kisaran 1,45% hingga 0,26%.
Faktor Pemicu Pelemahan Pasar
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas mengidentifikasi dua faktor utama yang membebani pergerakan pasar saham. Pertama, lonjakan harga minyak mentah Brent yang kembali menembus US$ 100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, ditambah ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap infrastruktur Iran jika terjadi serangan di Selat Hormuz, menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Faktor kedua adalah pemberlakuan tarif impor baru oleh Amerika Serikat terhadap sekitar 60 mitra dagangnya. Dengan kisaran tarif 10%-12,5%, kebijakan ini dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok global, memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, dan meningkatkan risiko stagflasi.
Dampak Domestik dan Pergerakan Saham Unggulan
Kedua sentimen global tersebut diperkirakan turut memberi tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), mempersempit ruang fiskal pemerintah, serta mendorong inflasi.
Di tengah pelemahan IHSG, sejumlah saham justru mencatatkan kenaikan substansial, bahkan masuk dalam jajaran top gainers. PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) memimpin dengan lonjakan harga 34,5% ke level Rp 214. Disusul oleh PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) yang melesat 25% ke Rp 1.375, dan PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) yang melonjak 12,3% ke Rp 438. Saham PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk (GOLD) dan PT Klinko Karya Imaji Tbk (KLIN) juga masing-masing menguat 10%, mencapai Rp 286 dan Rp 121.
Sebaliknya, beberapa saham mengalami koreksi tajam. PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA) longsor 15% ke Rp 187, diikuti PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) yang ambles 14,89% ke Rp 120, dan PT MD Entertainment Tbk (FILM) jatuh 11,6% ke Rp 1.060. Saham PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) dan PT Niramas Utama Tbk (JELI) juga masing-masing terkoreksi 11,27% dan 10,42%.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.