Detak.news — Indonesia dan Papua Nugini (PNG) telah resmi menyepakati penyelenggaraan forum Joint Ministerial Commission (JMC) atau Komisi Tingkat Menteri Gabungan. Forum ini dijadwalkan berlangsung pada awal September 2026 di Jakarta, dengan tujuan utama memperkuat kemitraan strategis serta meninjau kemajuan kerja sama bilateral antara kedua negara tetangga.
Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan diplomatik antara Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono dan Menlu Papua Nugini Justin Tkatchenko. Pertemuan tersebut dilaksanakan di sela-sela agenda ASEAN Foreign Ministers’ Meeting (AMM) dan Post-Ministerial Conference (PMC) yang bertempat di Manila, Filipina. Berdasarkan siaran resmi Kementerian Luar Negeri RI, forum JMC nantinya akan menjadi platform utama untuk mengevaluasi seluruh capaian kerja sama kedua negara dan memetakan arah kemitraan strategis di masa mendatang.
Percepatan Implementasi Pertahanan dan Perbatasan
Dalam dialog tersebut, kedua menteri luar negeri secara khusus menekankan pentingnya percepatan implementasi berbagai perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Fokus utama diberikan pada bidang pertahanan dan pengelolaan wilayah perbatasan darat. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan manfaat positifnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan.
Selain itu, kedua belah pihak juga membahas keberlanjutan program bantuan pembangunan yang diberikan oleh Indonesia untuk renovasi rumah sakit di Papua Nugini. “Indonesia adalah mitra pembangunan bagi Papua Nugini. Komitmen kami adalah memastikan kerja sama ini terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Papua Nugini,” tegas Menlu RI Sugiono.
Dukungan Kedaulatan dan Rencana Kunjungan Presiden
Pada kesempatan yang sama, Menlu Papua Nugini Justin Tkatchenko kembali menegaskan komitmen penuh pemerintahnya dalam mendukung kedaulatan serta keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Diskusi juga merambah pada agenda kunjungan tingkat tinggi antarnegara. Papua Nugini menyambut baik rencana kunjungan kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto ke Port Moresby yang dijadwalkan pada awal 2027.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat tersebut diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus memelihara hubungan persahabatan, menjaga stabilitas kawasan, serta melanjutkan kerja sama yang saling menguntungkan. Indonesia dan Papua Nugini berbagi perbatasan darat sepanjang lebih dari 800 kilometer di Pulau Papua, menjadikan hubungan kedua negara sangat krusial.
Posisi geostrategis sebagai negara bertetangga langsung menjadikan hubungan bilateral kedua negara sangat penting, terutama dalam aspek stabilitas keamanan kawasan, penanganan batas wilayah, perdagangan perbatasan, serta hubungan antarmasyarakat atau people-to-people contact. Di bawah prinsip politik luar negeri bebas aktif, Indonesia secara konsisten memposisikan diri sebagai mitra pembangunan tepercaya di kawasan Pasifik Selatan, termasuk bagi Papua Nugini. Kerja sama ini diwujudkan melalui pemberian bantuan teknis, hibah pembangunan infrastruktur kesehatan, serta penguatan batas negara secara damai. Dukungan konsisten Papua Nugini terhadap kedaulatan NKRI juga menjadi fondasi penting bagi terciptanya stabilitas keamanan di wilayah perbatasan serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif bagi kedua negara.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.