Detak.news — Pemerintah Indonesia tengah berupaya membangun fondasi kemandirian dalam teknologi kecerdasan artifisial (AI) melalui pengembangan ekosistem Sovereign AI. Inisiatif ini mencakup pengembangan model AI lokal, penyediaan infrastruktur komputasi yang memadai, serta peningkatan kualitas talenta digital dalam negeri.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menekankan bahwa penguasaan AI di masa depan bukan hanya soal inovasi teknis, melainkan telah menjadi aspek krusial bagi posisi tawar strategis suatu bangsa dalam rantai pasok teknologi global.
Di tengah ketegangan geopolitik global, Nezar mengamati tren peningkatan negara yang berupaya membangun Sovereign AI demi mengurangi ketergantungan pada negara-negara adidaya. “Negara-negara yang berada di posisi middle power kini giat mempromosikan Sovereign AI. Sebab pada akhirnya, penguasaan teknologi AI ini berpotensi menjadi choke point (titik jepit) bagi negara-negara besar untuk mempertahankan dominasi mereka,” ujar Nezar dalam keterangan resmi yang diterima pada Kamis (23/7/2026).
Nezar menggarisbawahi pentingnya pembangunan Sovereign AI secara full stack, yang meliputi seluruh lapisan dasar. Ini mencakup pemenuhan infrastruktur energi seperti listrik dan sistem pendingin air, penyediaan unit pemroses grafis (GPU) dan cip semikonduktor, pengembangan platform, hingga aplikasi akhir.
Terkait sumber daya manusia (SDM), Nezar optimistis talenta digital Indonesia memiliki daya saing internasional, asalkan diberikan kesempatan dan akses yang memadai. “Soal talenta digital sebenarnya tidak ada masalah, sepanjang anak-anak muda kita diberi kesempatan. Mereka perlu diberi akses ke infrastruktur AI, penguasaan ilmu yang tepat, serta ruang untuk berkreasi. Saya yakin di bidang compute cluster, kita mampu bersaing,” tegasnya.
Selain potensi SDM, Nezar juga menyoroti keunggulan komparatif Indonesia dalam kepemilikan mineral kritis (critical minerals) yang merupakan bahan baku utama industri AI dan semikonduktor. Pemerintah perlu mengelola sumber daya alam ini secara cermat agar menjadi alat diplomasi global yang kuat.
“Kita memiliki sumber daya alam yang kini menjadi rebutan dunia untuk membangun infrastruktur AI. Karunia mineral kritis ini harus kita amankan agar dapat menjadi bargaining power (daya tawar, red) yang kuat bagi Indonesia dalam rantai pasok global,” pungkas Nezar.
Konsep Sovereign AI atau AI Berdaulat mengacu pada kemampuan negara untuk memproduksi, mengelola, dan mengendalikan teknologi kecerdasan artifisial secara mandiri, dengan memanfaatkan data, infrastruktur, dan SDM lokal tanpa bergantung penuh pada pihak asing. Urgensi ini muncul akibat dominasi raksasa teknologi (Big Tech) dari AS dan China yang menguasai sebagian besar model bahasa besar (Large Language Models) dan pusat data global.
Ketergantungan penuh pada pihak luar dapat menimbulkan risiko serius, seperti terancamnya kedaulatan data nasional, pergeseran nilai budaya lokal akibat bias algoritma asing, hingga kerentanan ekonomi akibat gangguan pasokan teknologi karena sanksi geopolitik. Dengan potensi cadangan mineral kritis seperti nikel dan tembaga, Indonesia memegang peranan kunci. Mengintegrasikan kekayaan alam ini dengan pengembangan ekosistem AI domestik dipandang sebagai langkah krusial agar Indonesia menjadi pemain kunci yang berdaulat di peta digital dunia, bukan sekadar pasar konsumen.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.