Detak.news — Rencana pemerintah untuk menghadirkan motor listrik (molis) nasional harus menjadi wadah bersama guna memperkuat industri kendaraan listrik di tanah air. Kehadiran molis nasional ini diharapkan menjadi momentum penting untuk reindustrialisasi perekonomian Indonesia.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi menjelaskan, pengembangan motor listrik nasional seyogianya melibatkan industri yang sudah ada agar tercipta sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha. “Harapan kita mudah-mudahan pemerintah juga concern untuk itu, supaya bisnisnya, produknya, dan industrinya sama-sama berjuang untuk mengubah kultur masyarakat dari sepeda motor combustion engine ke listrik,” ujarnya.
Menurut Budi, pemerintah tidak perlu memulai pembangunan motor listrik nasional dari nol karena Indonesia sudah memiliki fondasi industri yang kuat, termasuk jenama lokal yang telah berkembang seperti Gesits, United, ALVA, dan Smoot. Salah satu opsi yang dapat ditempuh pemerintah adalah memperkuat ekosistem yang sudah ada agar lebih cepat berkembang.
“Kalau pemerintah ingin membangun, sebenarnya sudah ada embrionya. Gesits itu bisa ditingkatkan lagi. Tetapi industri yang ada sekarang juga sudah tumbuh dan bisa menjadi bagian dari pembangunan motor listrik nasional,” tuturnya. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan industri menjadi kunci agar program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan. “Kami siap untuk berdiskusi lebih lanjut. Syukur-syukur bisa menggandeng juga industri yang sudah ada,” imbuhnya.
Industri sepeda motor listrik di Indonesia telah berkembang pesat sejak 2019, menyusul penerbitan Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Saat ini, tercatat sekitar 36 pabrik sepeda motor listrik yang telah tergabung dalam Aismoli. Keberadaan industri ini menjadi modal penting dalam membangun ekosistem kendaraan listrik nasional.
“Perusahaan-perusahaan yang sekarang ada bisa bergandengan tangan dengan pemerintah untuk sama-sama membangun dan mengubah budaya baru masyarakat agar beralih dari ICE ke kendaraan listrik berbasis baterai,” kata Budi.
Momentum Reindustrialisasi
Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani menambahkan, pengembangan molis nasional dapat menjadi langkah strategis untuk mengembalikan peran sektor manufaktur sebagai penggerak utama perekonomian. “Namun, yang lebih penting adalah bagaimana aplikasi konsep tersebut agar benar-benar memberikan dampak luas terhadap industri dalam negeri,” ujarnya.
Kondisi industri manufaktur Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan. Kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional masih berkisar 19,2%, padahal pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di atas 6% serta penciptaan 19 juta lapangan kerja dalam lima tahun ke depan. “Target tersebut akan sulit tercapai apabila kontribusi sektor manufaktur masih berada di bawah 20% terhadap PDB,” jelas Ajib.
Ia membandingkan dengan Vietnam yang berhasil memperkuat basis manufakturnya melalui kebijakan yang mendukung kemudahan berusaha dan pemberian insentif yang tepat sasaran. Sektor manufaktur di Vietnam berkontribusi lebih dari 23% terhadap PDB, bahkan beberapa sektor mencapai 30%. “Penguatan industri domestik tersebut mampu menciptakan lapangan kerja secara masif dan mendorong pertumbuhan ekonomi Vietnam hingga 8,39% secara tahunan pada kuartal II 2026,” ungkap Ajib.
Syarat Molis Nasional
Ajib menjelaskan, agar motor listrik nasional benar-benar memberikan efek berganda bagi ekonomi domestik, produk tersebut tidak boleh hanya menjadi produk impor yang diberi jenama lokal. Terdapat dua syarat utama agar motor listrik dapat dikategorikan sebagai produk nasional.
Pertama, memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 50%. Ini mencakup keterlibatan industri lokal dalam pembuatan komponen seperti sasis, bodi, baterai, hingga sistem kelistrikan. Kedua, pembangunan rantai pasok komponen lokal yang mampu melibatkan industri kecil dan menengah (IKM). Dengan demikian, kehadiran motor listrik nasional tidak hanya menguntungkan produsen besar, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru di tingkat pemasok.
“Rantai pasok komponen harus mampu menumbuhkan industri-industri kecil sehingga ekosistem ekonominya memberikan dampak luas kepada masyarakat. Ini bisa menggandeng koperasi maupun asosiasi industri kecil menengah otomotif,” jelas dia.
Sementara itu, Budi Setiyadi menyebut sebuah produk dapat disebut sebagai motor listrik nasional apabila memenuhi sejumlah kriteria, mulai dari TKDN, kemampuan industri lokal, hingga manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Tentunya TKDN harus menjadi persyaratan. Regulasi kita juga sudah ada, tahun depan harus 60%,” katanya.
Selain TKDN, motor listrik nasional juga harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia, terutama dari sisi harga. Kendaraan listrik harus memiliki harga yang kompetitif agar dapat diterima pasar secara luas. “Harus bisa mengikuti kebutuhan masyarakat untuk sepeda motor listrik di Indonesia, dalam arti harganya jangan terlalu tinggi,” ujar Budi.
Budi juga menyoroti pentingnya penggunaan teknologi baterai yang sesuai dengan standar pemerintah. Penggunaan baterai lithium menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan kendaraan listrik. Perkembangan industri baterai dalam negeri terus berjalan. Meskipun sebagian komponen masih berasal dari luar negeri, terutama dari China, Indonesia mulai memiliki kemampuan untuk melakukan proses produksi dan perakitan komponen tertentu.
“Memang beberapa komponen tidak bisa dihindari masih didatangkan dari negara lain, terutama China seperti baterai. Tetapi sekarang sebagian sudah bisa di-packing di Indonesia dan sudah banyak pabrik baterai yang melakukan proses tersebut,” jelas Budi.
Dengan semakin berkembangnya industri pendukung, Indonesia memiliki peluang membangun ekosistem kendaraan listrik yang lebih kuat. Selain aspek teknologi dan komponen lokal, motor listrik nasional harus memberikan dampak luas bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam penciptaan lapangan kerja. Keberadaan motor listrik nasional harus menjadi kebanggaan nasional sekaligus memperkuat industri dalam negeri.
“Kemudian tentunya harus bisa memberikan dampak cukup luas untuk pekerja dan membanggakan Indonesia bahwa kita punya motor listrik nasional,” pungkas Budi.
Pihak Istana memastikan rencana Presiden Prabowo Subianto untuk meluncurkan motor listrik nasional hasil karya anak bangsa dalam waktu dekat. Peluncuran tersebut menjadi upaya mempercepat transisi energi bersih hingga kemandirian industri otomotif.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan, perincian teknis dan jadwal peluncuran akan diumumkan secara resmi pada waktu yang tepat. Ia memastikan seluruh persiapan terus dimatangkan.
Peluncuran motor listrik nasional bukan sekadar menunjukkan kemampuan Indonesia memproduksi kendaraan listrik sendiri. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) berbasis fosil. “Saya kira itu juga perlu menjadi perhatian kita bahwa sebuah prestasi itu tidak berdiri sendiri, juga tidak sekedar memberi efek atau impact di dunia otomotif, tetapi juga membawa pengaruh kepada konsumsi bahan bakar kita yang berbasis fosil sehingga kita bisa mengurangi ketergantungan BBM kita,” ucapnya.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.