Detak.news — Pembelajaran aplikatif bagi para pekebun sawit terus diintensifkan melalui kegiatan pelatihan di daerah-daerah penghasil komoditas tersebut. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pekebun dalam budi daya, mulai dari pemilihan bibit unggul, pemupukan, penggunaan pestisida, hingga pemanfaatan limbah sawit. Dengan demikian, produktivitas dan keberlanjutan kebun sawit rakyat diharapkan meningkat di masa depan.
Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Idum Satia Santi menjelaskan bahwa persoalan yang paling sering dihadapi pekebun dalam praktik budi daya sehari-hari meliputi bibit unggul, pemupukan, serangan hama penyakit, dan pengelolaan limbah. Oleh karena itu, pekebun perlu mendapatkan pelatihan yang bersifat aplikatif atau dapat langsung diterapkan di lapangan. “Para pekebun perlu solusi yang bisa langsung diterapkan guna meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan kebun sawit rakyat,” ujarnya.
Pendekatan pembelajaran aplikatif ini diterapkan dalam Pelatihan Teknis Budi Daya Kelapa Sawit yang diikuti 149 peserta dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, pada 24-30 Juli 2026 di Makassar. Mayoritas peserta adalah pekebun swadaya, penyuluh pertanian, dan aparatur pemerintah daerah yang mengikuti Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026. Program ini merupakan kolaborasi antara AKPY, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan).
Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah penghasil sawit di Indonesia. Oleh karena itu, pelatihan bagi para pekebun sawit di wilayah tersebut menjadi penting untuk meningkatkan produksi dan kualitas tandan buah segar (TBS). Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulsel, Nurul Fitriany Alimuddin, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pelatihan bukan pada jumlah peserta, melainkan perubahan nyata yang terjadi setelah peserta kembali ke kebun.
Pemerintah Provinsi Sulsel berharap para pekebun dapat menerapkan pengetahuan baru yang diperoleh, terutama mengenai penggunaan bibit unggul, pengelolaan kebun, hingga praktik budi daya yang lebih baik, sehingga berdampak pada peningkatan produksi dan kualitas TBS. “Bukan hanya pelatihannya yang selesai, tetapi harus ada perubahan sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan. Ilmu yang diperoleh harus benar-benar diterapkan di kebun sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh pekebun dan keluarganya, yakni produksi dan kualitas TBS naik,” jelasnya.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Andi Pamereni, mengatakan bahwa peningkatan produksi dan produktivitas TBS adalah kunci kesejahteraan para pekebun sawit. Karenanya, metode belajar yang memadukan teori dan praktik menjadi nilai tambah pelatihan, sebab pekebun sebagai peserta tidak hanya dapat memahami konsep tetapi juga melihat implementasinya di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Wajo berharap seluruh pekebun yang menjadi peserta pelatihan mengikuti kegiatan secara serius mengingat materi yang diberikan sangat padat dan dilengkapi dengan studi lapangan yang dapat menjadi referensi dalam mengelola kebun sawit rakyat. “Kami berharap peserta memperoleh pengetahuan mengenai budi daya sawit dan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kebun. Setelah kembali ke daerah masing-masing, ilmu tersebut dapat langsung diterapkan untuk meningkatkan produktivitas kebun sawit mereka,” papar Andi.
Hindari Benih Palsu
Lebih lanjut, Idum Satia menjelaskan bahwa pelatihan bagi pekebun sawit yang diselenggarakan AKPY, BPDP, dan Ditjen Perkebunan Kementan tidak lagi sekadar menyampaikan teori di ruang kelas. Melalui pendekatan pembelajaran yang aplikatif, peserta didorong untuk berdiskusi, menganalisis persoalan nyata di lapangan, hingga mempelajari praktik budi daya yang dapat langsung diterapkan di kebun masing-masing.
“Dengan pendekatan berbasis studi kasus dan diskusi, peserta diharapkan dapat langsung menyesuaikan penerapannya dengan kondisi kebun masing-masing setelah pelatihan selesai, termasuk bagaimana agar terhindar dari benih sawit palsu,” jelas Idum Satia dalam keterangan yang dikutip Senin (27/07/2026).
Selama pelatihan, peserta memperoleh materi yang berorientasi pada praktik budi daya sawit sehari-hari. Materi mencakup cara memilih bibit unggul bersertifikat agar terhindar dari benih palsu, membangun tanah yang sehat, menerapkan pemupukan yang tepat, memanfaatkan limbah sawit menjadi pupuk organik, hingga mengelola penggunaan pestisida secara bijaksana agar populasi serangga penyerbuk tetap terjaga. Seluruh materi ini dipilih karena merupakan persoalan yang paling sering dihadapi pekebun di lapangan.
Pelatihan bagi para pekebun sawit dirancang sebagai ruang belajar bersama, bukan sekadar penyampaian materi satu arah. Peserta diajak berdiskusi mengenai persoalan yang mereka hadapi di kebun sehingga solusi yang diberikan lebih relevan dengan kondisi di lapangan. “Saya yakin Bapak dan Ibu peserta sudah mengelola kebun sawit sehingga pasti banyak pengalaman dan persoalan yang bisa didiskusikan bersama narasumber. Harapannya, semua tantangan yang dihadapi di kebun dapat disentuh melalui pelatihan ini,” tutur Idum Satia.
Selain pembelajaran di kelas, peserta juga dijadwalkan mengikuti kunjungan lapangan ke kebun sawit PTPN Keera. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk melihat secara langsung penerapan teknik budi daya sawit yang baik sekaligus membandingkannya dengan praktik yang selama ini dilakukan di kebun mereka. Dengan pelatihan budi daya yang aplikatif tersebut, para pekebun asal Kabupaten Wajo diharapkan siap menerapkan ilmu di kebunnya.
Melalui metode pembelajaran aplikatif, diskusi interaktif, serta praktik lapangan, AKPY, BPDP, dan Ditjen Perkebunan Kementan berharap pelatihan itu mampu menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik budi daya. “Dengan begitu, setiap peserta tidak hanya membawa pulang sertifikat pelatihan, tetapi juga solusi yang dapat langsung diterapkan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan kebun sawit rakyat,” kata Idum Satia.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.