Detak.news — Harga minyak dunia melonjak sekitar 2% pada perdagangan Selasa (21/7/2026), ditutup pada level tertinggi dalam lima pekan. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi turut menopang kenaikan harga minyak, menurut laporan Reuters.
Minyak mentah Brent tercatat naik US$ 1,79 atau 2% menjadi US$ 91,01 per barel, mencapai level penutupan tertinggi sejak 10 Juni. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$ 1,68 atau 2% ke level US$ 84,91 per barel, menjadi penutupan tertinggi sejak 11 Juni.
Kenaikan tersebut juga mendorong Brent bertahan di area overbought secara teknikal selama tujuh hari perdagangan berturut-turut, mencatatkan rekor terpanjang sejak Juni 2025.
Analis dari Gelber & Associates menilai reli harga minyak lebih banyak didorong oleh meningkatnya risiko gangguan distribusi dibandingkan berkurangnya pasokan yang terjadi saat ini. “Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan rantai logistik energi tetap tidak stabil dalam beberapa hari ke depan, terutama jika ekspor minyak Arab Saudi ke Asia atau jalur pelayaran di Laut Merah kembali terganggu,” tulis Gelber & Associates dalam laporannya.
Ketegangan meningkat setelah dua kapal tanker yang membawa minyak mentah Arab Saudi menuju China dan India terpaksa berbalik arah di Laut Merah menyusul ancaman dari kelompok Houthi yang didukung Iran. Pada saat yang sama, militer AS melancarkan serangan ke sejumlah target di wilayah selatan dan barat Iran. Sebagai balasan, Teheran menyerang fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Laporan juga menyebutkan sedikitnya satu kapal tanker terkena serangan di Selat Hormuz.
Timur Tengah Memanas
Kelompok Houthi pada Senin (20/7/2026) mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, yang berpotensi memperluas konflik di kawasan dan meningkatkan risiko terhadap pasokan energi serta perdagangan global.
Meskipun demikian, sumber industri melaporkan bahwa pelabuhan ekspor minyak Yanbu di Laut Merah masih beroperasi secara normal.
Di sisi lain, data Joint Organizations Data Initiative (JODI) menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi pada Mei kembali turun untuk bulan ketiga berturut-turut, menyentuh level terendah dalam sejarah pencatatan.
Tekanan terhadap pasokan global juga datang dari kawasan Laut Hitam. Konsorsium Caspian Pipeline Consortium (CPC) menghentikan penerimaan minyak dari Kazakhstan setelah sebelumnya menangguhkan aktivitas pemuatan akibat serangan terhadap kapal tanker di terminalnya. Rusia menuding Ukraina berada di balik serangan tersebut, meski pemerintah Ukraina belum memberikan tanggapan hingga kini.
Pelaku pasar kini menantikan laporan persediaan minyak mentah Amerika Serikat dari American Petroleum Institute (API) yang dijadwalkan terbit Selasa malam waktu setempat, diikuti data resmi Energy Information Administration (EIA) pada Rabu. Analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS berkurang sekitar 500 ribu barel pada pekan yang berakhir 17 Juli. Jika terealisasi, penurunan tersebut akan menjadi penurunan mingguan kedua berturut-turut, mengindikasikan permintaan yang masih kuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Ikuti Detak.news
