— Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, berulang kali menekankan perlunya mengakhiri kondisi ketidakpastian hubungan antara Iran dan Amerika Serikat, yang kerap disebut sebagai “tidak perang, tidak damai”.

Pernyataan ini disampaikan Pezeshkian dalam acara peringatan Hari Nasional Industri dan Pertambangan, seperti dilaporkan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Selasa (21/7/2026). Status “tidak perang, tidak damai” menggambarkan ketegangan yang berlangsung lama tanpa konfrontasi militer terbuka, namun juga tanpa pemulihan hubungan diplomatik atau perdamaian resmi.

“Pemimpin tertinggi (Khamenei) dalam beberapa pertemuan tertutup terus menekankan perlunya mengakhiri kondisi ‘tidak perang, tidak damai’ ini,” ujar Pezeshkian, sembari memuji arah strategis yang telah ditetapkan Khamenei selama memimpin Iran. Laporan IRNA pada Selasa tersebut juga menyertakan foto prosesi pemakaman Khamenei di Teheran pada Senin (6/7/2026).

Komitmen Diplomasi di Tengah Eskalasi

Di tengah meningkatnya eskalasi militer, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap membuka pintu negosiasi, asalkan prinsip dasar negara dihormati. “Lembaga-lembaga diplomatik kami tidak akan pernah mundur dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Iran. Kami memasuki negosiasi berdasarkan kehormatan, kebijaksanaan, dan martabat bangsa,” tegasnya.

Pernyataan Presiden Pezeshkian ini sejalan dengan keterangan Juru Bicaranya di Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, sehari sebelumnya. Baqaei mengonfirmasi bahwa Iran telah menerima sejumlah draf usulan dari pihak mediator untuk meredakan tensi konflik dengan Amerika Serikat.

Saling Serang Memanas Pasca-Perjanjian Damai

Sinyal diplomasi ini muncul di tengah gelombang ketegangan baru. Pemerintah AS dilaporkan meningkatkan intensitas serangan terhadap target-target di Iran sejak pekan lalu. Sebagai balasan, pasukan militer Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas dan pangkalan yang diduga digunakan militer AS di beberapa negara kawasan.

Aksi saling serang ini memicu keprihatinan global, terutama mengingat kedua negara sempat menandatangani nota kesepahaman (MoU) penanganan konflik yang dimediasi oleh Pakistan pada Juni lalu untuk mencapai kesepakatan damai berkelanjutan.

Situasi keamanan regional memanas drastis sejak Februari lalu, setelah Khamenei—yang memimpin Iran selama hampir 36 tahun—tewas dalam operasi serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari. Peristiwa ini menandai awal mula konfrontasi terbuka kedua pihak.

Latar Belakang Hubungan Iran-AS

Hubungan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat terputus sejak pasca-Revolusi Islam 1979 dan krisis penyanderaan Kedubes AS di Teheran. Selama puluhan tahun, dinamika hubungan kedua negara berada dalam kondisi “dingin” yang diwarnai sanksi ekonomi berat, perlombaan pengaruh di Timur Tengah, serta ketegangan atas program nuklir Iran.

Kondisi “tidak perang, tidak damai” ini tidak hanya melumpuhkan perekonomian domestik Iran akibat sanksi internasional, tetapi juga menciptakan kerapuhan keamanan yang berpotensi meletus menjadi perang terbuka sewaktu-waktu. Penyerangan terhadap kepemimpinan tertinggi Iran serta pecahnya aksi militer langsung belakangan ini semakin mempertegas bahaya dari ketidakpastian status tersebut, sehingga mendorong pemerintah Iran di bawah Presiden Pezeshkian untuk terus menyeimbangkan antara perlawanan militer dan jalur diplomasi demi mempertahankan kedaulatan negara.