Detak.news — PASURUAN – Di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, terik matahari siang tak mengurangi kesejukan udara kaki Gunung Arjuno. Hamparan kebun mangga, khususnya varietas Mangga Klonal 21 atau Mangga Alpukat, menjadi komoditas penopang ekonomi utama masyarakat setempat.
Mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian, perdagangan kecil, dan usaha mikro rumahan. Ketua Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Wonokerto, Muhammad Yusril Suhendra, menjelaskan bahwa puncak panen mangga akan terjadi pada Oktober. Hasil panen ini dipasarkan ke berbagai daerah, sebagian dijual langsung kepada konsumen dan sebagian lainnya diserap oleh pengepul.
Namun, geliat ekonomi Wonokerto kini tidak lagi hanya bergantung pada musim panen. Dalam setahun terakhir, aktivitas ekonomi masyarakat mulai bergerak lebih luas berkat kehadiran Koperasi Desa Merah Putih Wonokerto yang mulai beroperasi pada April 2025. Awalnya, koperasi ini hanya menyediakan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula. Seiring meningkatnya kebutuhan warga, koperasi terus melakukan pengembangan untuk menjadi pusat aktivitas ekonomi desa.
Perubahan signifikan terlihat ketika koperasi mengembangkan konsep toko modern desa pada Oktober 2025. Toko ini tidak hanya menyediakan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi ruang pemasaran bagi produk-produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Rak-rak toko kini dipenuhi berbagai produk buatan warga, mulai dari telur asin, keripik pisang, kopi, minuman kunyit asam, hingga cokelat. Sekitar sepuluh pelaku UMKM menitipkan produknya di koperasi ini.
Keberadaan koperasi memberikan peluang baru bagi pelaku usaha kecil. Produk yang sebelumnya hanya dipasarkan secara terbatas kini memiliki tempat penjualan yang lebih luas dan mudah dijangkau masyarakat. Meskipun sejumlah minimarket nasional berjarak beberapa kilometer, koperasi tetap menjadi pilihan warga berkat kedekatan dengan masyarakat, harga kompetitif, dan keberpihakan pada produk lokal.
Perputaran ekonomi di koperasi terus meningkat. Omzet toko ritel desa ini mencapai sekitar Rp180 juta hingga Rp200 juta setiap bulan. Angka ini belum termasuk aktivitas usaha lain yang dikelola koperasi, seperti penjualan sarana pertanian.
Sekitar 100 meter dari toko utama, Koperasi Merah Putih Wonokerto mengelola gudang tani yang menyediakan pupuk dan pestisida bagi petani. Fasilitas ini krusial karena sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Selain mendistribusikan pupuk bersubsidi, koperasi juga menyediakan pupuk non-subsidi. Omzet penjualan pupuk berkisar Rp40 juta hingga Rp50 juta per bulan. Keberadaan gudang tani ini memudahkan petani memperoleh kebutuhan produksi tanpa harus pergi ke kota, menghemat waktu dan biaya, serta menjaga perputaran uang tetap berada di lingkungan masyarakat.
Bagi Yusril, keberhasilan koperasi tidak hanya diukur dari omzet, tetapi juga peranannya sebagai pintu masuk layanan keuangan bagi warga desa. Koperasi Merah Putih Wonokerto kini menjadi agen layanan keuangan mikro dari BRI dan BNI, memungkinkan masyarakat melakukan berbagai transaksi perbankan seperti setor tunai, tarik tunai, hingga pencairan bantuan sosial tanpa harus datang ke kantor bank di pusat kota.
Kehadiran layanan keuangan ini secara perlahan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Warga yang sebelumnya tidak terbiasa menggunakan layanan perbankan mulai mengenal transaksi keuangan formal. Bagi pelaku UMKM, layanan ini juga mempermudah menjalankan usaha, menerima pembayaran, dan mengelola keuangan dengan lebih cepat.
Yusril berharap koperasi terus berkembang menjadi rumah bersama bagi seluruh pelaku ekonomi desa, sehingga UMKM di sekitar ikut berkembang, pemasok bertambah, penjualan meningkat, dan ekonomi masyarakat tumbuh.
Sri Rukaiya (35), pelaku usaha minuman herbal, merasakan dampak positif keberadaan koperasi. Penjualannya meningkat setelah produknya dipasarkan melalui Koperasi Merah Putih Wonokerto. Ia menitipkan sekitar 10 botol minuman kunyit asam setiap tiga hari, yang sebelumnya hanya dipasarkan di sekitar sekolah dan toko kecil. “Sekarang pemasaran bisa lebih luas lagi lewat Koperasi Merah Putih,” ujarnya.
Koperasi Merah Putih Wonokerto merupakan bagian dari perkembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Jawa Timur yang terus menunjukkan pertumbuhan. Provinsi ini mencatat nilai transaksi KDKMP terbesar secara nasional sepanjang 2026, mencapai Rp24,02 miliar dari total transaksi nasional Rp62,12 miliar. Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyatakan capaian ini bukti bahwa koperasi telah berkembang menjadi penggerak ekonomi nyata di tingkat desa.
Keberhasilan KDKMP di Jawa Timur, yang merupakan provinsi tercepat dalam pembentukan badan hukum KDKMP dengan jumlah 8.494 koperasi, tidak terlepas dari percepatan pembentukan badan hukum dan dukungan pemerintah daerah. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan koperasi dan UMKM berkontribusi sekitar 60 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang pada triwulan I 2026 mencapai 5,9 persen.
Perkembangan koperasi desa ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang ingin menjadikan KDKMP sebagai motor baru ekonomi rakyat, di mana pembangunan ekonomi harus dimulai dari desa dengan semangat gotong royong. Presiden memproyeksikan KDKMP mampu menciptakan perputaran ekonomi hingga Rp223 triliun setiap tahun di desa-desa, meningkatkan pendapatan petani, peternak, dan nelayan melalui sistem distribusi yang lebih efisien.
Presiden menjelaskan bahwa koperasi akan berkembang menjadi pusat layanan ekonomi desa yang menyediakan toko sembako, layanan pembiayaan, apotek desa, gudang penyimpanan, hingga fasilitas penyimpanan hasil panen. “Koperasi adalah alatnya orang kecil. Kalau berdiri sendiri mungkin lemah, tetapi kalau bersatu menjadi kekuatan ekonomi yang besar,” ujar Prabowo.
Pemerintah juga menyiapkan skema baru penyaluran bantuan sosial (bansos) dengan menjadikan koperasi sebagai pusat distribusi bantuan pemerintah dan barang bersubsidi, yang ditargetkan mulai diterapkan secara bertahap pada September 2026. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan seluruh bantuan pemerintah nantinya akan disalurkan melalui KDKMP. Sekitar 25 ribu koperasi ditargetkan mulai beroperasi sepanjang Agustus hingga September 2026.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menambahkan bahwa mekanisme baru ini masih dalam tahap simulasi dan penyusunan regulasi. Pemerintah sedang mengkaji dua skema penyaluran bantuan, yakni membuka gerai bank di koperasi atau menyalurkan bantuan melalui rekening KDKMP, yang tetap akan disalurkan melalui rekening perbankan.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.