— JAKARTA – Penyaluran kredit perbankan menunjukkan tren penguatan yang signifikan pada Juni 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit secara tahunan (year on year/yoy) mencapai 12,67%, melampaui angka 11,51% yang tercatat pada Mei 2026.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa peningkatan ini mengindikasikan fungsi intermediasi perbankan terus membaik di tengah gejolak ekonomi global. Menurutnya, kinerja kredit yang kuat ini mencerminkan peran vital perbankan dalam menyediakan pembiayaan bagi perekonomian nasional.

“Peran kredit perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi terus meningkat. Pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2026 tercatat sebesar 12,67%, meningkat dari pertumbuhan Mei 2026 sebesar 11,51%,” ungkap Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/7/2026).

Lebih lanjut, Perry merinci bahwa pertumbuhan kredit pada Juni 2026 terutama didorong oleh segmen kredit investasi yang melonjak 24,9% yoy. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh sebesar 8,94% yoy, dan kredit konsumsi mencatat kenaikan 5,75% yoy.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2026 akan berada dalam rentang 8% hingga 12%. Proyeksi ini didukung oleh kekuatan dari sisi permintaan maupun penawaran pembiayaan.

Dari sisi permintaan, ketersediaan fasilitas pinjaman yang belum terpakai atau ‘undisbursed loan’ masih cukup besar, mencapai Rp2.490 triliun atau setara 21,52% dari total plafon kredit. BI menekankan pentingnya realisasi fasilitas ini untuk memperkuat pembiayaan sektor riil.

Sementara itu, dari sisi penawaran, minat bank untuk menyalurkan kredit atau ‘lending appetite’ tetap terjaga. Hal ini didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 10,21% serta perkembangan suku bunga perbankan yang diharapkan dapat mendorong penyaluran kredit lebih lanjut melalui publikasi asesmen transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK).

BI mencatat bahwa suku bunga deposito berjangka satu bulan pada Juni 2026 berada di level 4,76%, sementara rata-rata suku bunga kredit tercatat sebesar 8,81%.

Di samping itu, Perry menegaskan bahwa ketahanan industri perbankan tetap terjaga kokoh, mampu meredam dampak ketidakpastian global sambil terus mengoptimalkan fungsi intermediasinya. Ketahanan ini tercermin dari permodalan yang tinggi, risiko kredit yang rendah, serta likuiditas yang memadai.

Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan per Mei 2026 tercatat sebesar 23,74%, menunjukkan kapasitas kuat untuk menyerap risiko dan mendukung ekspansi kredit. Rasio kredit bermasalah (NPL) pada Juni 2026 juga tetap rendah, yakni 2,1% secara bruto dan 0,84% secara neto.

Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) pada Juni 2026 tercatat sebesar 23,08%, sedikit menurun dari 24,74% pada Mei 2026. Meskipun demikian, level ini masih tergolong tinggi dan menunjukkan likuiditas perbankan yang tetap terjaga.

“Hasil ‘stress test’ Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan berlanjutnya perang di Timur Tengah yang ditopang kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang tetap terjaga baik,” pungkas Perry.