— PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) mencatat penurunan laba bersih sebesar Rp103,28 miliar pada semester I-2026. Angka ini turun 9,28% atau sekitar Rp10,56 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan kinerja ini disebabkan oleh tekanan geopolitik global dan perlambatan impor kendaraan nasional yang berdampak pada aktivitas terminal internasional perusahaan.

Meskipun laba mengalami penurunan, IPCC berhasil mempertahankan margin laba bersih di angka 24,98%. Hal ini menunjukkan efektivitas pengelolaan biaya dan efisiensi operasional perusahaan.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama sekaligus Direktur Operasi dan Teknik IPCC, Bagus Dwipoyono, menjelaskan bahwa penyesuaian kinerja pada semester pertama tahun ini tidak terlepas dari berbagai faktor eksternal yang memengaruhi industri logistik kendaraan. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah telah mengganggu rantai pasok otomotif global dan meningkatkan biaya logistik internasional. Di dalam negeri, perlambatan impor kendaraan juga memberikan tekanan terhadap volume aktivitas terminal internasional Perseroan.

“Kondisi geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah dan pelemahan impor otomotif nasional, turut memberi tekanan pada kinerja Terminal Internasional yang menjadi tulang punggung pendapatan IPCC. Namun kami meyakini ini merupakan tantangan jangka pendek yang lazim dihadapi industri logistik kendaraan global,” ujar Bagus dalam keterangan tertulisnya, Selasa (28/7/2026).

Tekanan tersebut terutama dirasakan oleh Terminal Internasional IPCC di Jakarta, yang selama ini menjadi kontributor utama bisnis Perseroan dengan porsi sekitar 87% terhadap pendapatan dan operasional konsolidasian.

Kendati demikian, manajemen IPCC tetap optimistis bahwa tekanan ini bersifat sementara. Strategi mitigasi risiko, peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi kapasitas terminal, serta pengembangan layanan bernilai tambah melalui strategi Integrated Auto Solutions diharapkan dapat mengatasi tantangan ini.

“Kami akan terus memperkuat mitigasi risiko, menjaga kinerja operasional yang solid melalui penguatan efisiensi di setiap pergerakan operasional, optimalisasi kapasitas terminal, serta pengembangan layanan bernilai tambah agar IPCC tetap menjadi mitra logistik kendaraan yang andal dan berkelanjutan,” kata Bagus.

Direktur Keuangan, SDM, dan Manajemen Risiko IPCC, Wing Megantoro, menambahkan bahwa di tengah tekanan kinerja, kondisi fundamental Perseroan tetap terjaga. Hingga akhir Juni 2026, total aset IPCC tercatat stabil sebesar Rp2,04 triliun. Aset lancar juga meningkat 4,01% menjadi Rp1,218 triliun dari Rp1,171 triliun pada akhir 2025.

Peningkatan aset lancar ini menunjukkan likuiditas Perseroan yang tetap kuat untuk mendukung operasional maupun pengembangan usaha. Selain itu, IPCC mempertahankan statusnya sebagai debt free company atau perusahaan tanpa utang berbunga, sehingga memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menghadapi dinamika pasar.

Perseroan terus menjalankan program efisiensi secara terukur dengan memfokuskan alokasi anggaran pada kegiatan yang berdampak langsung terhadap keberlangsungan operasional, pengembangan inovasi bisnis, serta peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan.

Sekretaris Perusahaan IPCC, Endah Dwi Liesly, menegaskan bahwa penurunan kinerja pada semester I-2026 disampaikan secara terbuka sebagai bagian dari komitmen Perseroan dalam menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG).

“Kami menyampaikan capaian keuangan ini secara transparan dan tepat waktu, termasuk penyesuaian yang terjadi sebagai dampak dinamika ekonomi dan geopolitik global yang berada di luar kendali perusahaan,” ujar Endah. Ia menambahkan, perseroan akan terus menjaga kesehatan fundamental keuangan agar tetap mampu menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham, pengguna jasa, dan perekonomian nasional di tengah tantangan industri logistik kendaraan.