— JAKARTA – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) merencanakan investasi sebesar Rp23,4 triliun dalam lima tahun mendatang. Dana ini akan dialokasikan untuk menambah jumlah armada kapal dan meningkatkan kinerja perusahaan di tengah persaingan layanan jasa transportasi penyeberangan.

Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry, Heru Widodo, menjelaskan bahwa mayoritas armada kapal perseroan, sekitar 59%, telah berusia lebih dari 30 tahun. Peremajaan armada kapal sangat dibutuhkan untuk dapat bersaing di industri angkutan penyeberangan.

“Saat ini pesaing-pesaing baru terus muncul dan banyak kapal-kapal baru yang datang. Sementara kita kapal-kapal lama. Dari sisi operasional tentu kita kalah, jumlah kapal kita kurang. Sedangkan swasta kapalnya tambah terus,” kata Heru dalam acara press tour ‘ASDP Goes to Luwuk’ di Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah, akhir pekan lalu.

Untuk itu, ASDP telah berkomunikasi dengan Danantara terkait rencana penambahan jumlah armada kapal. Dalam lima tahun ke depan, dibutuhkan anggaran sebesar Rp23,4 triliun yang akan digunakan untuk pembelian 46 kapal baru dan sewa (charter) 50 kapal.

“Nah kemudian anggaranya apakah semuanya dari Danantara? Itu nanti bisa kita mix, ada yang dari kita dan ada yang dari Danantara. Kemarin kami sudah bicarakan dengan Danantara, mereka betul-betul support,” jelasnya.

Heru juga mengungkapkan bahwa ASDP telah mengusulkan agar pembiayaan layanan perintis ke depan menggunakan skema Public Service Obligation (PSO) agar pendanaan layanan publik memiliki kepastian yang lebih baik dan berkelanjutan.

“Makanya kita minta transformasi apa namanya peralihan subsidi dari Kementerian Perhubungan menuju ke PSO supaya ketersediaan anggaran kita ini menjadi pasti,” tambahnya.

Menurutnya, kontrak subsidi di bawah skema Kementerian Perhubungan dievaluasi setiap enam bulan, sehingga berisiko keterbatasan anggaran pada semester berikutnya. Kondisi ini sempat mempengaruhi keberlanjutan layanan kapal perintis.

Heru menambahkan, perubahan skema ke PSO akan membuat kontrak pendanaan berlaku selama satu tahun penuh. Hal ini memungkinkan operator untuk memastikan layanan penyeberangan di wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan tetap berjalan tanpa terganggu persoalan ketersediaan anggaran.

Rute Jarak Jauh

Wakil Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry, Yossianis Marciano, menjelaskan bahwa penambahan armada kapal ini salah satunya akan digunakan untuk layanan rute jarak jauh atau Long Distance Ferry (LDF).

Saat ini, perseroan telah melayani rute perdana LDF yaitu Patimban-Pontianak (pulang pergi/PP). Pada bulan depan, ASDP akan menambah satu rute LDF baru, yaitu Surabaya-Makassar (PP). Dengan adanya penambahan armada kapal baru, perusahaan berharap dapat melebarkan beberapa rute jarak jauh.

“Jadi kita akan improve yang lintasan pendek dan nambah juga yang lintasan jarak jauh. Misalnya Jakarta-Medan ada gak? Gak ada. Sekarang di Indonesia enggak ada (kapal) RoRo Jakarta-Medan,” kata Yossianis.

Ia mengakui, kapasitas kapal yang dioperasikan ASDP saat ini masih terbilang kecil dibandingkan perusahaan swasta lainnya. Contohnya, untuk rute Merak-Bakauheni, kapal yang dimiliki perseroan hanya sebesar 5.000 Gross Tonnage (GT), jauh tertinggal dibandingkan kompetitor lain yang mencapai 10.000 GT.

“Imbasnya daya tampung jadi tergerus. Oleh karena itu di lintasan yang sama sekali muatnya mereka lebih banyak. Dengan adanya armada baru, untuk kapal yang di Merak-Bakauheni sudah tidak kompetitif lagi dan akan dialihkan ke Ketapang-Gilimanuk,” terangnya.

Pakar kemaritiman dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Raja Olean Saut Gurning, mengatakan strategi ASDP menambah armadanya merupakan langkah positif yang diharapkan bisa mengatasi kepadatan angkutan penyeberangan pada momen-momen puncak.

“Saya kira cukup bagus dan perlu didukung penambahan armada untuk angkutan penyeberangan melalui ASDP, sebab kapal-kapalnya juga sudah mulai menua,” ujar Saut.

Menurut Saut, angkutan penyeberangan ASDP juga banyak melakukan misi sosial melalui angkutan perintis dan barang di wilayah terluar dan kawasan perbatasan. Dengan penambahan armada, kapasitas angkutan melalui subsidi juga bisa ditambah.

“Dan ini memang menjadi tugas negara bagaimana mengangkut masyarakat yang berada di kawasan terluar dan perbatasan. Dukungan ASDP bisa dilakukan berdasarkan kemampuannya mengangkut dari dermaga ke dermaga,” ucapnya.

Ia menjelaskan, selain penambahan armada, hal lain yang perlu diperhatikan adalah perbaikan dermaga di berbagai pelabuhan besar yang dikelola ASDP. Menurutnya, jika kapal penyeberangan tersedia dan berlebih, akan sia-sia jika tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai.

“Jika dermaga yang tersedia cukup sesuai dengan kapasitas armada, baik itu armada ASDP maupun armada swasta, saya kira pengaturan angkutan penyeberangan pada musim puncak seperti Lebaran dan Nataru bisa lebih baik,” pungkasnya.

Hijaukan Pesisir

Dalam kesempatan yang sama, ASDP menggelar Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melalui peresmian program penanaman 2.500 pohon mangrove di kawasan pesisir Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Kegiatan yang mengusung tema ‘Connecting Sustainability, Growing Net Zero’ ini menjadi wujud nyata kontribusi ASDP dalam mendukung aksi mitigasi perubahan iklim melalui solusi berbasis alam (nature-based solutions).

Penanaman mangrove diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekosistem pesisir, meningkatkan kualitas lingkungan, sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menyampaikan bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi bisnis perusahaan. Sebagai BUMN yang mengemban peran strategis dalam menghubungkan wilayah kepulauan Indonesia, ASDP terus berupaya menghadirkan layanan transportasi yang andal sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Keberlanjutan bukan lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah tanggung jawab. Mobilitas dan konektivitas yang kami bangun harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Melalui penanaman 2.500 pohon mangrove di Pagimana ini, ASDP ingin memberikan kontribusi nyata dalam mendukung aksi iklim sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir,” ujar Heru.

Mangrove memiliki peran penting sebagai benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari abrasi, menjaga keseimbangan ekosistem, menjadi habitat bagi berbagai biota laut, serta memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah yang tinggi. Oleh karena itu, rehabilitasi ekosistem mangrove menjadi salah satu solusi berbasis alam yang mampu memberikan manfaat ekologis, sosial, maupun ekonomi secara berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, ASDP menggandeng Jejakin sebagai mitra teknologi untuk menghadirkan sistem Digital Monitoring & Reporting.

Business Development Manager Jejakin, Andrian Benhard, menjelaskan bahwa sistem ini dijalankan agar setiap pohon yang ditanam dapat dipantau secara transparan mulai dari lokasi penanaman, perkembangan pertumbuhan, hingga estimasi penyerapan karbon yang dihasilkan melalui pemanfaatan teknologi berbasis satelit dan Artificial Intelligence (AI).

“Pendekatan berbasis data ini memastikan bahwa setiap langkah konservasi yang dilakukan dapat diukur dampaknya secara berkelanjutan,” kata Adrian.