— PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menorehkan prestasi dengan masuk dalam lima besar perusahaan tambang emas di Asia. Perusahaan ini bersiap untuk membalikkan keadaan dari posisi rugi menjadi untung, seiring munculnya rekomendasi positif dan target harga saham yang menarik.

Merdeka Gold Resources (EMAS) tercatat memiliki sumber daya emas sebanyak 7 juta troy ounce (Moz), menjadikannya terbesar kelima di Asia. Sementara itu, cadangan emas emiten berkode saham EMAS ini sebesar 5,2 Moz, yang merupakan terbesar keempat di benua Asia.

Tambang EMAS diproyeksikan memiliki umur operasi selama 15 tahun dengan rasio pengupasan lapisan penutup (stripping ratio) yang efisien sebesar 0,7 kali. Produksi perdana diperkirakan dimulai pada Februari 2026 dan ditargetkan meningkat hingga 50.000 troy ounce pada tahun yang sama melalui metode heap leach.

“Produksi perdana pada Februari 2026 dan ditargetkan meningkat hingga 50.000 troy ounce pada 2026 melalui metode heap leach,” tulis analis KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana dan Naufal Rafi Kamal dalam risetnya.

Selanjutnya, fasilitas CIL (carbon in leach), sebuah metode pengolahan emas dengan melarutkan bijih dan menyerap emas menggunakan karbon, ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2028.

KB Valbury Sekuritas memperkirakan pendapatan Merdeka Gold Resources (EMAS) akan mencapai US$ 150 juta pada 2026 dan melonjak menjadi US$ 765 juta pada 2028. Proyeksi ini mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) yang impresif sebesar 126%.

Laba bersih EMAS diprediksi mencapai US$ 14 juta pada 2026, menandai pembalikan dari kerugian bersih US$ 27 juta pada 2025. “Setiap perubahan harga emas sebesar 1% diperkirakan memengaruhi laba bersih sekitar 2-2,1%,” ungkap Ashalia.

Perkembangan positif ini didukung oleh tren permintaan emas global yang terus meningkat. Permintaan emas global diprediksi naik dari 3.703 ton pada 2020 menjadi 5.025 ton pada 2025. Dalam periode tersebut, porsi pembelian oleh bank sentral melonjak signifikan dari 7% menjadi 17% terhadap total permintaan.

Pada kuartal I-2026, bank sentral telah menyumbang 20,4% dari keseluruhan permintaan emas. “Tren ini memberikan dukungan struktural terhadap harga emas,” sebut dia.

Menyikapi prospek cerah tersebut, KB Valbury Sekuritas memulai cakupan risetnya terhadap saham EMAS dengan rekomendasi beli. Target harga saham EMAS dipatok sebesar Rp 7.400.

Target harga tersebut dihitung menggunakan metode DCF (discounted cash flow) atau arus kas terdiskonto dan menawarkan potensi kenaikan harga saham sebesar 20%. Katalis utama bagi saham EMAS meliputi peningkatan volume produksi, kenaikan harga emas, serta mulai beroperasinya fasilitas CIL pada 2028.

Namun, investor perlu mencermati risiko utama yang meliputi potensi keterlambatan produksi, penurunan harga emas, dan kenaikan tarif royalti.