Detak.news — Perusahaan kecerdasan buatan OpenAI mengumumkan serangkaian fitur baru yang dirancang untuk meningkatkan keamanan penggunaan ChatGPT oleh remaja. Pembaruan ini mencakup penyaringan konten yang lebih ketat, kontrol lebih luas bagi orang tua, dan fitur pembelajaran yang dikhususkan untuk pelajar.
Langkah ini diambil OpenAI mengingat AI telah menjadi bagian integral dari keseharian generasi muda. Hampir 90 persen remaja dilaporkan menggunakan ChatGPT setiap minggu untuk keperluan belajar, riset, atau membantu mengatur aktivitas mereka. OpenAI berpendapat bahwa melarang akses remaja ke AI bukanlah solusi, melainkan memastikan mereka dapat memanfaatkan teknologi ini dengan perlindungan yang sesuai usia.
Salah satu upaya utamanya adalah peningkatan sistem prediksi usia (age prediction) yang pertama kali dirilis September 2023. Melalui sistem ini, ChatGPT akan menganalisis perilaku percakapan untuk memperkirakan apakah pengguna berusia di bawah 18 tahun. Jika sistem mendeteksi pengguna sebagai remaja atau tidak yakin dengan usianya, ChatGPT secara otomatis akan menerapkan pengawasan yang lebih ketat.
Mode pengawasan ini akan membatasi dan memblokir konten yang dianggap sensitif, seperti kekerasan grafis, tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm), citra tubuh yang tidak sehat, hingga tantangan viral yang berisiko. Lebih lanjut, jika sistem mendeteksi pengguna mengalami tekanan emosional, platform dapat mengaktifkan jalur dukungan yang berpotensi mencakup pemberitahuan kepada orang tua atau bahkan aparat penegak hukum.
ChatGPT juga akan lebih sering menampilkan pengingat bagi remaja untuk beristirahat, terutama jika sesi percakapan berlangsung terlalu lama. Selain itu, orang tua kini memiliki opsi untuk mengatur ‘Quiet Hours’, yaitu periode waktu tertentu ketika akses ChatGPT dibatasi. Orang tua juga bisa menonaktifkan Voice Mode, membatasi akses ke fitur AI image generation, dan menerima notifikasi saat sistem mendeteksi situasi berisiko tinggi, termasuk indikasi pengguna mencari informasi terkait tindakan menyakiti diri sendiri.
Bantu Bimbing Siswa Belajar
Selain aspek keamanan, OpenAI juga memperkuat fungsi ChatGPT sebagai alat bantu belajar. Perusahaan memperluas ‘Study Mode’, sebuah fitur yang dikembangkan bersama guru dan pakar pendidikan. Berbeda dengan chatbot pada umumnya yang langsung memberikan jawaban, Study Mode membimbing siswa menyelesaikan soal secara bertahap, sehingga membantu mereka memahami proses penyelesaiannya.
Orang tua kini juga dapat mengaktifkan Study Mode sebagai pengaturan default ChatGPT melalui fitur parental control. OpenAI juga menambahkan berbagai starter prompt untuk membantu pengerjaan tugas sekolah, serta memperluas alat pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran matematika dan sains. Fitur-fitur pembelajaran ini dilaporkan telah digunakan oleh sekitar 18 juta pengguna setiap minggu dan mencakup lebih dari 250 topik.
OpenAI berharap kombinasi fitur keamanan, kontrol orang tua, serta alat belajar ini dapat mendorong remaja untuk memanfaatkan AI secara lebih bertanggung jawab, tanpa mengurangi manfaatnya untuk belajar dan berkreasi.
Ikuti Detak.news
