Detak.news — JAKARTA – Nilai tukar rupiah (IDR) melanjutkan tren pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Senin, 27 Juli 2026. Pada penutupan sore ini, rupiah ditutup terkoreksi 46 poin atau 0,26% ke level Rp 18.009 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.963 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan pelemahan rupiah ini merupakan respons negatif pasar terhadap berita mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Pergantian pucuk pimpinan bank sentral ini tampaknya menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor.
Dari sisi eksternal, pelemahan rupiah terjadi meskipun Amerika Serikat telah menghentikan serangan terhadap Iran. Langkah ini sejatinya menandai jeda dalam eskalasi konflik antara kedua negara di Timur Tengah. “Investor juga mendapat dorongan dari laporan pada hari Jumat bahwa China sedang berupaya untuk menghidupkan kembali pembicaraan perdamaian yang macet antara Washington dan Teheran, meningkatkan harapan bahwa konflik dapat bergeser kembali ke arah negosiasi setelah berminggu-minggu peningkatan militer,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Senin (27/7/2026).
Meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda mereda, gangguan pasokan energi di Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama. Para pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan lebih lanjut. Laporan menunjukkan penurunan jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan. Lalu lintas melalui Selat Bab el-Mandeb juga dilaporkan melambat pasca serangan Houthi terhadap fasilitas minyak Saudi.
Selain itu, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). “Potensi kenaikan tetap terbatas karena sentimen pasar masih terikat pada narasi The Fed yang cenderung hawkish,” papar Ibrahim.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.