Detak.news — Sejumlah insinyur telah berhasil mengembangkan sebuah drone inovatif bernama Phantom Twist. Teknologi ini dirancang khusus agar sulit terdeteksi ketika beroperasi di ruang terbuka. Berbeda dengan metode kamuflase konvensional yang mengandalkan cat khusus atau bahan transparan, Phantom Twist mengandalkan prinsip fisika visual manusia.
Drone ini bekerja dengan memanfaatkan keterbatasan mata manusia dalam menangkap objek yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi. Saat berada di udara, Phantom Twist akan tampak seperti gumpalan kabut tipis atau bayangan transparan yang melayang. Fenomena visual ini dicapai melalui mekanisme rotasi konstan pada seluruh badan drone, sehingga tidak ada satu titik pun yang stabil dan dapat menjadi fokus pandangan mata pengamat.
Penemuan revolusioner ini dipresentasikan dalam konferensi Robotics: Science and Systems yang diselenggarakan di Sydney, Australia, pada 16 Juli 2026. Michael Rubenstein, profesor madya komputasi dan teknik mesin di Northwestern University sekaligus penulis utama penelitian, menjelaskan filosofi di balik desain ini. “Sebagian besar upaya untuk menyembunyikan drone berfokus pada membuatnya tampak seperti lingkungan sekitarnya,” ujar Rubenstein. “Sebaliknya, kami bertanya apakah kami dapat mendesain drone itu sendiri berdasarkan cara manusia mempersepsikan gerakan.”
Memanfaatkan Efek Buram Gerakan
Berbeda dengan drone konvensional yang umumnya memiliki empat rotor, Phantom Twist mengadopsi desain yang lebih minimalis dengan hanya satu motor dan satu baling-baling. Konfigurasi unik ini memungkinkan baling-baling berputar ke satu arah, sementara seluruh badan drone bergerak berlawanan arah. Dengan kecepatan rotasi badan drone yang bisa mencapai 25 kali per detik, mata manusia akan kesulitan untuk mengidentifikasi bentuknya secara detail.
Hasilnya, pengamat tidak lagi melihat sebuah mesin terbang yang tegas, melainkan hanya sebuah bayangan buram menyerupai noda atau kabut. Para peneliti mengklaim bahwa Phantom Twist sekitar 10 kali lebih sulit terlihat dibandingkan dengan quadcopter konvensional. Emma Alexander, seorang pakar visi komputer yang terlibat dalam proyek ini, menambahkan bahwa mata manusia memerlukan waktu untuk memproses informasi visual, mirip dengan waktu pencahayaan pada kamera.
Ketika sebuah objek berputar dengan kecepatan tinggi, bagian-bagian dan tepiannya akan menyatu. Fenomena ini menyebabkan manusia melihat bentuk yang buram, bukan objek yang utuh. “Mata manusia membutuhkan waktu untuk mengumpulkan sinyal, kira-kira analog dengan waktu pencahayaan kamera,” jelas Alexander.
Desain Dibantu Kecerdasan Buatan
Proses perancangan Phantom Twist melibatkan penggunaan algoritma komputer dan kecerdasan buatan (AI). Tim peneliti menciptakan sekitar 20.000 konfigurasi drone secara virtual, menguji berbagai posisi motor, baling-baling, baterai, papan sirkuit, dan pemberat. Setiap desain kemudian disimulasikan untuk memastikan kemampuan terbang yang stabil sekaligus tingkat visibilitas yang rendah.
Gambar hasil simulasi drone ditempatkan pada lebih dari 100 latar belakang yang berbeda, meliputi langit, pepohonan, hingga bangunan. Model persepsi visual digunakan untuk menilai seberapa mudah setiap desain dapat terlihat oleh manusia. Dari ribuan desain, 500 konfigurasi dengan skor visibilitas terendah dioptimalkan lebih lanjut hingga tim menemukan rancangan yang paling efektif.
Versi akhir Phantom Twist sengaja tidak dibuat sebagai perangkat keras yang padat. Komponen-komponennya ditempatkan pada ketinggian dan sudut yang berbeda dengan ruang kosong di antaranya. Susunan ini mencegah komponen membentuk siluet yang jelas saat badan drone berputar, semakin menyulitkan identifikasi visual.
Potensi Penggunaan Luas
Para peneliti melihat potensi besar bagi Phantom Twist dalam berbagai aplikasi. Salah satunya adalah untuk memantau satwa liar, seperti burung yang sedang bersarang, tanpa menimbulkan gangguan atau ketakutan. Drone ini juga berpotensi digunakan untuk survei lahan basah, pemantauan ekosistem, serta pemeriksaan infrastruktur tanpa menarik perhatian yang berlebihan dari manusia maupun hewan.
Meskipun demikian, Phantom Twist belum sepenuhnya tidak terlihat. Baling-balingnya masih menghasilkan suara yang cukup keras, dan kabel serta batang penyangga tipisnya masih bisa terlihat dari sudut pandang tertentu. Tim peneliti berencana untuk terus mengembangkan generasi berikutnya dengan material yang lebih transparan dan sistem penggerak yang lebih senyap di masa depan.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.