Detak.news — PT Aman Agrindo Tbk (GULA) tengah mempersiapkan langkah strategis untuk memperkuat bisnisnya di tahun 2026 dengan fokus pada operasional pabrik gula merah baru. Pabrik ini dijadwalkan mulai beroperasi secara komersial pada paruh kedua tahun ini, didukung oleh alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) dan sisa dana hasil Initial Public Offering (IPO).
Direktur Utama PT Aman Agrindo Tbk, Andreas Utomo, menyatakan optimismenya terhadap prospek bisnis gula nasional. Perseroan menargetkan total penjualan atau pendapatan dapat mencapai Rp 336,37 miliar pada tahun buku 2026, sebuah peningkatan sekitar 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Target ambisius ini didukung oleh pengembangan area pemasaran, penguatan kemitraan dengan pelanggan lama, serta penjajakan pelanggan baru.
“Kami juga berupaya memenangkan persaingan pasar dengan menyasar segmen UKM dan retail melalui penawaran kuantitas yang lebih fleksibel namun tetap dengan harga yang bersaing,” ujar Andreas dalam keterangan resmi.
Selain target penjualan yang agresif, GULA membidik raihan laba bruto sebesar Rp 55,83 miliar, laba usaha senilai Rp 46,92 miliar, dan laba neto sebesar Rp 36,9 miliar hingga akhir tahun 2026. Kinerja terkini pada kuartal I-2026 menunjukkan penjualan sebesar Rp 40,9 miliar dan laba usaha Rp 2 miliar, yang diklaim sebagai pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Fokus utama manajemen saat ini adalah penyelesaian pembangunan pabrik gula merah yang berbasis di Semarang. Fasilitas produksi teranyar ini diperkirakan akan mulai beroperasi secara komersial pada semester II-2026. Langkah operasional ini ditopang oleh realisasi penggunaan dana hasil IPO saham sejak Agustus 2022.
Berdasarkan laporan resmi, realisasi penyerapan dana bersih hasil penawaran umum telah berjalan optimal mendekati 100%. Dari total dana IPO bersih, perseroan telah merealisasikan Rp10,17 miliar untuk pembangunan pabrik dan fasilitas lainnya, Rp 28,88 miliar untuk pembelian dan instalasi mesin, serta Rp 10,06 miliar untuk modal kerja yang telah terealisasi sepenuhnya. Total anggaran belanja modal (capex) untuk pos pabrik baru ini mencapai Rp 40,2 miliar. Per Mei 2026, dana yang telah diserap dan dibelanjakan mencapai Rp 39 miliar, menyisakan komitmen dana capex sebesar Rp 1,2 miliar.
Sisa dana IPO sebesar Rp 1,21 miliar ditempatkan pada instrumen perbankan di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Namun, manajemen mengakui adanya tantangan eksternal yang membayangi penyelesaian proyek ini. Fluktuasi makroekonomi, khususnya pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, berimbas pada pengadaan aset perseroan.
“Kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah dinamika proses impor mesin pengolahan gula merah. Mengingat transaksi pembelian mesin dilakukan dalam denominasi US$, pelemahan nilai tukar Rupiah memberikan dampak berupa pembengkakan biaya (cost overruns) dari estimasi awal. Namun, manajemen terus melakukan mitigasi ketat agar pabrik tetap dapat commissioning tepat waktu di paruh kedua tahun ini,” pungkas Andreas.
Ikuti Detak.news
