— JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA kembali menjadi sorotan investor dengan rekomendasi dari KB Valbury Sekuritas untuk perdagangan hari ini, Kamis (23/7/2026). Analisis ini bertujuan mengoptimalkan potensi keuntungan bagi investor yang berencana melakukan perdagangan.

KB Valbury Sekuritas merekomendasikan strategi ‘buy on weakness’ untuk saham BBCA, dengan target harga harian di Rp 6.575. Investor disarankan untuk melakukan pembelian pada kisaran harga Rp 6.425-6.500 sebagai titik masuk.

Secara teknikal, saham BBCA memiliki level resistance di Rp 6.575 dan support di Rp 6.425. KB Valbury Sekuritas mengingatkan investor untuk waspada jika harga menembus di bawah Rp 6.425, dan menyarankan untuk menerapkan ‘stop loss’ di level Rp 6.275.

Sementara itu, Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Penilaian saham dilakukan menggunakan pendekatan valuasi gabungan yang mengombinasikan metode ‘price to book value’ (P/BV) dan ‘dividend discount model’ (DDM).

Berdasarkan pendekatan tersebut, Kiwoom Sekuritas menetapkan target harga saham BBCA untuk 12 bulan ke depan sebesar Rp 8.075. Target harga ini mencerminkan proyeksi P/BV 2026 sebesar 3,3 kali, sedikit lebih rendah dibandingkan P/BV tiga tahun terakhir yang mencapai 3,4 kali.

Risiko utama yang dihadapi BBCA meliputi tekanan pada ‘net interest margin’ (NIM) yang berlangsung lebih lama, pertumbuhan kredit yang lebih lemah dari perkiraan, serta kondisi ekonomi makro yang kurang mendukung.

Pada kuartal I-2026, BBCA berhasil mencetak laba bersih yang tangguh sebesar Rp 14,7 triliun, tumbuh 3,8% secara tahunan (‘year-on-year’) dan kuartalan (‘quarter-on-quarter’). Pertumbuhan laba ini ditopang oleh peningkatan pendapatan non-bunga dan pengendalian biaya yang disiplin, meskipun NIM mengalami penurunan menjadi 5,4%.

Pertumbuhan kredit BBCA tercatat melambat, namun pendanaan tetap kuat. Total kredit mencapai Rp 993,8 triliun, meningkat 5,6% ‘year-on-year’ dan 0,1% ‘quarter-on-quarter’, terutama didorong oleh segmen kredit korporasi, komersial, dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).