— Industri media penyiaran, baik televisi maupun radio, kini berada di titik krusial. Di satu sisi, masyarakat menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengonsumsi berbagai konten digital, mulai dari video daring, podcast, hingga berita melalui ponsel. Namun, di sisi lain, banyak perusahaan media justru menghadapi tekanan bisnis yang signifikan, ditandai dengan pengurangan karyawan, restrukturisasi, hingga penutupan biro.

Fenomena paradoks ini terjadi bukan karena masyarakat berhenti membutuhkan media, melainkan karena cara mereka mengakses informasi, cara perusahaan beriklan, dan cara media menciptakan nilai ekonomi telah berubah secara fundamental. Meskipun konsumsi informasi dan hiburan meningkat, investasi komunikasi kini lebih banyak mengalir ke ranah digital.

Laporan PwC Global Entertainment & Media Outlook 2025–2029 memproyeksikan Indonesia sebagai salah satu pasar hiburan dan media dengan pertumbuhan tercepat di dunia, mencapai sekitar 8,4 persen per tahun. Pasar iklan televisi nasional pun diprediksi masih tumbuh 7,7 persen per tahun hingga 2029. Namun, pertumbuhan paling pesat justru terjadi pada iklan digital, video daring, media sosial, dan Connected TV (CTV). Ini menunjukkan bahwa kebutuhan komunikasi tidak berkurang, melainkan arah investasinya yang bergeser.

Pergeseran ini sejalan dengan perubahan perilaku audiens. Dulu, televisi dan radio adalah gerbang utama informasi. Kini, masyarakat memperoleh berita dari berbagai sumber seperti media sosial, video pendek, aplikasi percakapan, podcast, hingga kreator konten. Mereka tidak lagi terpaku pada jadwal siaran, melainkan memilih konten, waktu, dan perangkat yang diinginkan.

Digital News Report 2025 dari Reuters Institute for the Study of Journalism di University of Oxford mengkonfirmasi hal ini. Laporan tersebut menyoroti media sosial sebagai sumber berita utama bagi masyarakat Indonesia yang terhubung ke internet. Platform seperti YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook, dan TikTok kini memainkan peran dominan dalam distribusi informasi.

Perubahan perilaku audiens ini turut diikuti oleh pengiklan. Mereka tidak lagi sekadar membeli slot iklan, tetapi menuntut hasil yang terukur, seperti jumlah penonton, respons audiens, pemahaman pesan, hingga dampak kampanye terhadap perilaku konsumen. PwC memperkirakan sekitar 80 persen pendapatan iklan global pada 2029 akan berasal dari platform digital.

Persimpangan Jalan Model Bisnis Media

Selama puluhan tahun, model bisnis media penyiaran bertumpu pada penjualan inventori iklan dan durasi siaran. Model ini efektif ketika pilihan media terbatas. Kini, media bersaing tidak hanya dengan sesama stasiun televisi atau radio, tetapi dengan seluruh ekosistem digital yang memperebutkan perhatian audiens.

Fenomena ini mengingatkan pada konsep “Marketing Myopia” dari Theodore Levitt, yang menyatakan bahwa kegagalan perusahaan seringkali disebabkan oleh kekeliruan dalam mendefinisikan bisnisnya sendiri. Jika media hanya melihat dirinya sebagai perusahaan penyiaran, ruang pertumbuhannya akan terbatas.

Namun, jika media memposisikan diri sebagai perusahaan komunikasi yang menjembatani hubungan antara organisasi dan publik, peluang baru akan terbuka. Perusahaan media memiliki aset berharga seperti jurnalis berpengalaman, produser narasi, studio produksi, jaringan distribusi, kemampuan produksi audio visual, serta kredibilitas yang dibangun bertahun-tahun. Aset-aset ini sulit ditiru oleh banyak pelaku digital.

Menuju Solusi Komunikasi yang Komprehensif

Pasar saat ini membutuhkan lebih dari sekadar ruang promosi. Dunia usaha memerlukan strategi komunikasi yang komprehensif, meliputi pengelolaan reputasi, hubungan media, komunikasi krisis, produksi konten digital, pengelolaan media sosial, analisis media, hingga penyelenggaraan forum.

Transformasi media seharusnya tidak hanya berhenti pada digitalisasi platform seperti siaran di YouTube atau TikTok. Yang lebih mendasar adalah perubahan definisi perusahaan media, dari sekadar perusahaan penyiaran menjadi perusahaan solusi komunikasi (communication company).

Penyiaran tetap menjadi fondasi, namun perlu diperkuat dengan layanan seperti produksi konten, komunikasi korporasi, hubungan media, pengelolaan isu dan krisis, media intelligence, social listening, riset audiens, penyelenggaraan forum publik, pengembangan komunitas, hingga pelatihan komunikasi. Pendekatan ini akan menciptakan sumber pendapatan yang lebih beragam dan tidak bergantung pada penjualan slot iklan.

Transformasi ini tidak berarti mengaburkan batas antara bisnis dan jurnalisme. Kredibilitas jurnalistik dan independensi ruang redaksi harus tetap dijaga sebagai modal kepercayaan utama. Yang berubah adalah bagaimana perusahaan memanfaatkan kompetensi yang dimiliki untuk menciptakan nilai tambah di luar produk jurnalistik, dengan tetap menjaga pemisahan tegas antara aktivitas editorial dan komersial.

Peter Drucker mengingatkan bahwa bahaya terbesar dalam menghadapi perubahan adalah mempertahankan cara berpikir lama. Pesan ini sangat relevan bagi industri media saat ini. Kebutuhan masyarakat terhadap media tidak akan berakhir, tetapi model bisnis lama yang dibangun di era komunikasi terbatas akan segera usai. Masa depan media penyiaran akan ditentukan oleh kemampuannya membangun kepercayaan, memahami perubahan perilaku publik, dan menghadirkan solusi komunikasi yang relevan, sambil tetap beradaptasi tanpa kehilangan integritasnya.