Detak.news — JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi akan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 23 Juli 2026. Pelemahan ini dipicu oleh sejumlah sentimen dari pasar global maupun domestik.
Pada penutupan perdagangan Rabu sore (22/7/2026), rupiah tercatat melemah 29 poin ke level Rp 17.917 per dolar AS, beranjak dari posisi Rp 17.888 per dolar AS pada penutupan hari sebelumnya.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah pada Kamis besok akan cenderung fluktuatif namun ditutup melemah di kisaran Rp 17.920 hingga Rp 18.970 per dolar AS.
Sentimen Global Penggerak Pelemahan Rupiah
Ibrahim menjelaskan bahwa salah satu sentimen eksternal utama yang menekan rupiah adalah memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak global.
“Ancaman blokade (di Laut Merah) muncul ketika lalu lintas maritim telah terganggu oleh permusuhan di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global, yang menambah kekhawatiran bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat semakin mengurangi pasokan yang tersedia dan meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi,” jelas Ibrahim.
Selain isu geopolitik, rupiah juga tertekan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat. Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas sebesar 78% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan minggu depan. Namun, kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan September diperkirakan mencapai 68%.
Sentimen Domestik Tetap Berpengaruh
Meskipun Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75%, sentimen domestik tetap berpotensi menekan nilai tukar rupiah.
BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 basis poin menjadi 6,50%. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas perekonomian di tengah ketidakpastian global.
Ikuti Detak.news
