JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa sektor perbankan dan perekonomian Indonesia tetap memiliki likuiditas yang memadai. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan uang primer atau base money (M0) yang berhasil mencapai angka 14,1% secara tahunan pada Juni 2026.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa capaian ini merupakan hasil dari berbagai strategi penguatan likuiditas yang konsisten dilakukan oleh bank sentral. Beberapa langkah tersebut meliputi pelaksanaan operasi moneter dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

Perry merinci bahwa BI terus menyediakan fasilitas lelang instrumen repurchase agreement (repo) bagi perbankan. Fasilitas ini tersedia dengan pilihan tenor mulai dari tiga, enam, sembilan, hingga 12 bulan. Selain itu, hingga 21 Juli 2026, BI telah melakukan pembelian SBN senilai Rp 188,68 triliun, di mana Rp 76,62 triliun di antaranya merupakan pembelian di pasar sekunder.

“Langkah tersebut menjaga uang primer (M0) pada Juni 2026 tetap tumbuh tinggi atau double digit sebesar 14,1% (yoy),” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara virtual, Rabu (22/7/2026).

Lebih lanjut, Perry memaparkan bahwa dari sisi komponen, pertumbuhan M0 terutama didorong oleh peningkatan uang kartal sebesar 14,0% secara tahunan, serta pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia yang mencapai 12,7% secara tahunan. Pertumbuhan uang primer ini juga dipengaruhi oleh operasi moneter BI dan ekspansi operasi keuangan pemerintah, termasuk penempatan dana pemerintah di perbankan.

“Dari faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M0 pada Juni 2026 dipengaruhi oleh operasi moneter Bank Indonesia dan ekspansi operasi keuangan Pemerintah, termasuk penempatan dana Pemerintah ke perbankan,” urai Perry.

Sementara itu, data menunjukkan bahwa uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2026 tercatat tumbuh 10,8% secara tahunan. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan pertumbuhan pada April 2026 yang tercatat sebesar 9,2% secara tahunan. BI mengidentifikasi bahwa kenaikan M2 ini terutama didorong oleh peningkatan penyaluran kredit serta pertumbuhan aktiva luar negeri bersih.

“Ke depan, berbagai upaya penguatan untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar uang, perbankan dan perekonomian akan terus ditempuh sehingga dapat menjaga stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi,” terang Perry.