— JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan perdagangan Selasa, 21 Juli 2026. Data pasar spot exchange per pukul 09.05 WIB menunjukkan pelebaran penguatan sebesar 11 poin atau 0,06% ke angka Rp 17.937 per dolar AS.

Penguatan ini terjadi setelah sehari sebelumnya, Senin (20/7/2026), rupiah ditutup melemah 27 poin di level Rp 17.948 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar yang cukup ketat.

Sementara itu, dolar AS secara global berfluktuasi di dekat level tertinggi dalam sepekan. Pasar terbelah antara berbagai sinyal, terutama yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah. Perang di kawasan tersebut kembali memicu kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan energi global, yang secara tidak langsung memengaruhi pergerakan mata uang utama dunia.

Indeks dolar AS terpantau stabil di angka 100,96, nyaris menyentuh level tertingginya sejak 15 Juli 2026. Mata uang utama lainnya menunjukkan pergerakan yang beragam. Yen Jepang sebagian besar datar di posisi 162,50 per dolar AS. Euro sedikit tertekan, melemah menjadi $1,1415 per dolar AS, sementara poundsterling Inggris bertahan stabil di $1,3434 per dolar AS.

Di sisi lain, dolar Selandia Baru mencatat penguatan 0,4% menjadi $0,5860 per dolar AS, mencapai level tertingginya sejak awal Juni. Dolar Australia juga bergerak sedikit menguat ke $0,7001 per dolar AS.

Ketegangan di Timur Tengah terus membebani pasar keuangan global, tercermin dari fluktuasi tajam harga minyak yang mendekati level tertinggi dalam enam minggu terakhir. “Ada harapan untuk sedikit meredakan ketegangan dan kita akan menekan tombol jeda pada suatu saat. Semuanya masih sangat fluktuatif,” ujar Rodrigo Catril, ahli strategi mata uang senior di National Australia Bank, menggambarkan kondisi pasar yang penuh ketidakpastian.