Detak.news — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Senin, 20 Juli 2026. Pada penutupan Senin sore, rupiah ditutup melemah 27 poin ke level Rp 17.948 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.921 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kembali dilancarkannya serangkaian serangan oleh Amerika Serikat dan Iran selama akhir pekan. Serangan baru ini terjadi setelah Iran melancarkan serangan ke pangkalan AS di Yordania yang menewaskan sedikitnya dua tentara AS dan melukai sejumlah korban.
Peningkatan ketegangan antara AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran mengenai jalur pengiriman energi global melalui Selat Hormuz. Hal ini membuat pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak lebih lanjut dan mengantisipasi premi risiko yang lebih besar pada komoditas tersebut.
“Selain itu, data inflasi dan pasar tenaga kerja AS baru-baru ini menunjukkan latar belakang ekonomi yang lebih lemah, tetapi investor tetap fokus pada apakah kenaikan biaya energi dapat mempersulit upaya Federal Reserve dalam memerangi inflasi,” tulis Ibrahim dalam keterangannya pada Senin (20/7/2026).
Dari sisi domestik, rupiah tertekan di tengah derasnya arus investasi asing yang keluar. Investasi domestik juga dilaporkan melemah, ditambah lesunya konsumsi rumah tangga yang diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah level 5%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,9% secara tahunan (yoy).
Ikuti Detak.news
