— Saham PT Astra International Tbk (ASII) diperkirakan akan mendapatkan katalis baru menjelang pengumuman kinerja keuangan semester I-2026. Prospek laba yang diprediksi tetap solid, didukung oleh membaiknya sektor otomotif, kontribusi signifikan dari PT United Tractors Tbk (UNTR), serta program pembelian kembali saham (buyback), menjadi kombinasi sentimen positif yang berpotensi menopang pergerakan harga saham perseroan.

Optimisme ini tercermin dalam target harga yang ditetapkan oleh analis. Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk ASII dengan target harga Rp5.800. Angka ini memberikan potensi kenaikan (upside) sekitar 18,13% jika dibandingkan dengan harga penutupan perdagangan Senin (27/7/2026) di level Rp4.910.

Meskipun menghadapi tantangan di beberapa lini bisnis, Astra dinilai mampu mempertahankan kualitas kinerjanya melalui keseimbangan kontribusi dari berbagai segmen. Penguatan penjualan kendaraan roda empat diproyeksikan akan mengompensasi pertumbuhan penjualan roda dua yang cenderung lebih moderat. Sementara itu, kinerja UNTR diprediksi akan melampaui ekspektasi. Kombinasi faktor-faktor ini diperkirakan menjaga prospek laba pada kuartal II-2026 dan menjadi pendorong baru bagi saham ASII.

Proyeksi Kinerja Astra International

Analis Indo Premier Sekuritas, Aurelia Barus dan Halima Yefany, dalam riset yang diterbitkan Senin (27/7/2026), memperkirakan laba bersih inti (core net profit) ASII pada semester I-2026 akan mencapai Rp13,5 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, namun diprediksi meningkat 10% secara kuartalan pada kuartal II-2026.

“Angka tersebut berada di atas estimasi kami sebelumnya dan sejalan dengan konsensus. Rekomendasi ‘Buy’ tetap dipertahankan,” tulis mereka dalam riset tersebut.

Menurut Indo Premier, segmen otomotif diperkirakan akan membukukan kinerja sesuai proyeksi. Penjualan wholesale kendaraan roda empat Astra pada kuartal II-2026 mengalami peningkatan sebesar 19% dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini membuat volume penjualan semester I-2026 mencapai 222 ribu unit, atau naik 10% YoY. Angka ini telah memenuhi 54% dari target penjualan tahun penuh 2026, lebih tinggi dari rata-rata pencapaian tiga tahun terakhir yang sebesar 49%.

Kontributor Laba Lainnya

Kontributor lain yang diperkirakan memperkuat laba Astra adalah United Tractors. Berdasarkan realisasi kinerja lima bulan pertama 2026, bisnis kontraktor pertambangan dan tambang batu bara mencatat volume yang melampaui estimasi internal maupun panduan dari manajemen.

Indo Premier memperkirakan laba bersih inti UNTR pada kuartal II-2026 mencapai Rp2 triliun, atau naik 30% secara kuartalan. Dengan demikian, laba semester I-2026 UNTR diproyeksikan mencapai Rp3,5 triliun.

Sementara itu, segmen pembiayaan diperkirakan akan tetap mencatatkan kinerja yang stabil, sejalan dengan penjualan kendaraan yang masih solid. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) diproyeksikan membukukan laba bersih inti sebesar Rp1,1 triliun pada semester I-2026, atau turun tipis 2% YoY. Lini bisnis lainnya juga diperkirakan bergerak sesuai dengan proyeksi yang ada.

Selain prospek laba yang solid, Indo Premier menilai program buyback saham senilai Rp8 triliun yang telah disetujui oleh pemegang saham pada 17 Juli 2026 menjadi katalis baru bagi saham ASII. Program ini diyakini mampu meningkatkan kepercayaan pasar sekaligus memberikan dukungan terhadap pergerakan harga saham perseroan dalam jangka menengah.

Kinerja Positif Astra Otoparts

Di sisi lain, kinerja PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) turut memperkuat prospek grup Astra. Pada semester I-2026, perseroan berhasil membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp1,2 triliun, menunjukkan pertumbuhan 22,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bersih juga meningkat 13,2% menjadi Rp10,9 triliun, didorong oleh pertumbuhan penjualan pada segmen manufaktur maupun perdagangan.

Presiden Direktur Astra Otoparts, Yusak Kristian Solaeman, menyatakan bahwa pertumbuhan tersebut mencerminkan ketahanan fundamental usaha di tengah kenaikan harga bahan baku dan volatilitas nilai tukar rupiah. Ia menambahkan, perseroan akan terus memperkuat kapabilitas manufaktur, meningkatkan sinergi dengan produsen kendaraan (OEM), serta memperluas jaringan dan portofolio produk aftermarket untuk menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.

Kinerja positif ini ditopang oleh peningkatan permintaan komponen kendaraan dari OEM seiring membaiknya permintaan kendaraan roda dua dan roda empat, serta pertumbuhan bisnis aftermarket dan ekspor. Astra Otoparts juga terus memperkuat pengembangan komponen kendaraan listrik, memperluas jaringan ritel yang kini mencapai 667 gerai, serta mengoperasikan 70 unit stasiun pengisian daya Astra Otopower di 60 lokasi strategis. Langkah-langkah ini memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang sekaligus melengkapi prospek positif yang sedang menopang saham Astra.