— Luas lahan padi yang mengalami puso atau gagal panen akibat kemarau tercatat seluas 12.207 hektare (ha) antara Januari hingga 10 Juli 2026. Meskipun demikian, pemerintah tetap optimistis areal padi yang puso tidak akan bertambah, bahkan di tengah prediksi kemarau tahun ini yang akan dibarengi fenomena El Nino.

Optimisme ini didasarkan pada strategi adaptasi dan mitigasi yang telah disiapkan. Langkah tersebut meliputi penggunaan varietas padi tahan kekeringan dan penyaluran bantuan 57.303 unit pompa air. Selain itu, pemerintah juga berupaya mengantisipasi dengan merevitalisasi jaringan irigasi yang pada tahun ini mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp16,4 triliun untuk menjaga ketersediaan air.

Pemerintah menerapkan tiga jurus utama dalam mengatasi dampak kemarau. Pertama, adalah strategi antisipasi yang dilakukan sebelum kemarau terjadi, bersifat jangka pendek, menengah, hingga panjang. Ini mencakup penguatan infrastruktur air seperti normalisasi saluran irigasi, rehabilitasi atau revitalisasi jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier, serta pembangunan embung, sumur air dangkal atau dalam, dan long-storage.

Kedua, strategi adaptasi yang dilakukan saat kemarau berlangsung, bersifat jangka pendek. Contohnya adalah penggunaan varietas padi tahan kekeringan seperti Inpari 4-13, Inpari 38-46, Situbagendit, Situpatenggang, Pajajaran, atau Cakrabuana.

Ketiga, strategi mitigasi yang bertujuan mengurangi dampak kekeringan, bersifat jangka menengah hingga panjang. Strategi ini meliputi pemberian bantuan pemerintah berupa 57.303 unit pompa air pada 2026, irigasi perpompaan, dan asuransi pertanian untuk 100 ribu ha. Di luar ketiga strategi tersebut, pemerintah juga mengembangkan Si-Perditan (Sistem Informasi Peringatan Dini dan Penanganan Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian).

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus pada sektor pertanian, termasuk dalam hal ketersediaan air untuk menjaga produksi dan mencapai swasembada pangan, khususnya beras. Oleh karena itu, selain peningkatan anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) untuk produktivitas padi yang tinggi, anggaran juga dialokasikan ke Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk revitalisasi saluran irigasi di seluruh Indonesia.

“Revitalisasi irigasi tahun ini mendapat bujet Rp16,4 triliun, ini untuk melaksanakan Inpres No 02 Tahun 2025. Makanya, dengan sampai Juli ini puso ada 12 ribu ha, kami tentu berupaya itu tidak meningkat,” jelas Sudaryono. Anggaran Rp12 triliun telah diberikan Kementerian Keuangan kepada Kementerian PU pada 2025, dengan realisasi Rp9,7 triliun untuk revitalisasi irigasi di bawah supervisi Ditjen Lahan dan Irigasi Kementan.

Berdasarkan data Kementan per 10 Juli 2026, tercatat 30.379 ha tanaman padi di Indonesia terdampak kekeringan, dengan 12.207 ha di antaranya mengalami puso. Wilayah yang terdampak meliputi Aceh (824 ha), Sumut (4 ha), Jatim (15 ha), Kalbar (11 ha), Sulteng (45 ha), Sulsel (11.222 ha), Sultra (22 ha), Sulbar (1 ha), dan Maluku (62 ha).

Saat rapat kerja dengan Komisi IV DPR pada 15 Juli 2026, Wamentan menjelaskan bahwa Kementan bersama BMKG serta kementerian/lembaga (K/L) terkait telah memperkuat sistem peringatan dini untuk mengantisipasi dampak El Nino terhadap produksi pangan melalui Si-Perditan. Sistem ini mencakup pemetaan wilayah yang sering mengalami kekeringan dan penyajian data kekeringan berdasarkan kejadian El Nino enam tahun sebelumnya.

“Langkah strategis dan koordinasi lintas institusi juga terus dilakukan guna meminimalisasi, mengurangi, dan mengantisipasi dampak El Nino terhadap produksi komoditas pertanian, termasuk menyiagakan alsintan prapanen selama 2024-2026,” ujar Wamentan.

Ketersediaan Pangan Nasional Aman

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) Sarwo Edhy menyatakan bahwa di tengah tantangan kemarau dan prediksi El Nino, stok pangan nasional dalam kondisi aman dengan harga yang relatif stabil. Proyeksi Neraca Pangan (PNP) 2026 menunjukkan ketersediaan 11 komoditas pangan strategis nasional umumnya mencukupi kebutuhan masyarakat.

Beberapa komoditas utama seperti beras, jagung, gula konsumsi, cabai (besar dan rawit), telur ayam, bawang merah, dan daging ayam masih mencatatkan surplus. Namun, komoditas lain seperti bawang putih, kedelai, serta daging sapi/kerbau masih mengalami defisit dan perlu dipenuhi melalui mekanisme perdagangan yang telah direncanakan, termasuk impor.

“Kondisi ini menjadi dasar bagi pemerintah dalam menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan, termasuk saat menghadapi kemarau,” ujar Sarwo Edhy.

Dalam PNP 2026 yang diperbarui pada 13 Juli 2026, status beras, cabai besar, cabai rawit, jagung, dan gula konsumsi telah mencapai swasembada. Daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang merah sudah masuk kategori ekspor. Sementara itu, bawang putih, kedelai, dan daging sapi/kerbau masih defisit produksi.

Khusus untuk beras, stok awal tahun dilaporkan mencapai 12.542.264 ton. Dengan target produksi 2026 sebesar 34.768.470 ton dan kebutuhan 31.103.146 ton, diperkirakan akan ada surplus 3.665.324 ton, sehingga stok akhir tahun diproyeksikan mencapai 16.248.722 ton.

Publikasi BMKG yang dirilis 17 Juli 2026 memprediksi curah hujan pada Dasarian III Juli 2026 (21-31 Juli) akan didominasi oleh curah hujan rendah (76,54%), diikuti curah hujan menengah (23,36%), dan hanya 0,09% kategori tinggi. Wilayah yang diperkirakan mengalami curah hujan rendah meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua.