Detak.news — JAKARTA – Sebanyak 80 persen eksekutif perusahaan di seluruh dunia berencana mengadopsi kecerdasan buatan (AI) sebagai strategi utama untuk mendorong pertumbuhan organisasi mereka. Temuan ini diungkapkan dalam studi terbaru dari raksasa teknologi asal Amerika Serikat, IBM.
Hasil studi tersebut dipaparkan oleh Senior Vice President dan Chair untuk IBM Europe, Middle East, Africa, dan Asia Pacific, Ana Paula Assis, pada acara IBM Think Singapura 2026. Acara yang dihadiri lebih dari 1.000 klien dan 300 mitra bisnis IBM dari kawasan Asia Pasifik dan global ini menyoroti peran AI yang semakin signifikan dalam operasional perusahaan.
Ana Paula Assis menjelaskan bahwa para pemimpin organisasi kini giat menjajaki peluang yang ditawarkan AI untuk menghasilkan pengembalian investasi (ROI) yang terukur. Peran teknologi ini menjadi semakin krusial dan tidak dapat dikesampingkan lagi.
Namun, studi IBM juga menemukan adanya kesenjangan pemahaman. Hanya 20 persen dari pimpinan perusahaan yang dilaporkan mampu menjelaskan secara rinci bagaimana proses transformasi bisnis melalui pemanfaatan AI akan dieksekusi untuk menghasilkan nilai tambah yang nyata.
Di sisi lain, perusahaan yang berhasil mengintegrasikan AI ke dalam model operasi mereka menunjukkan peningkatan performa yang signifikan. “Perusahaan yang berhasil mengintegrasikan AI ke dalam model operasi mereka mengungkap berhasil mencatat kenaikan produktivitas 70% lebih besar, jangka waktu kerja 74% lebih cepat. Integrasi AI juga membuat penyampaian proyek 67% lebih tangkas,” ujar Ana dalam presentasinya di Singapura, Selasa (21/7/2026).
Ana menambahkan bahwa hambatan utama yang dihadapi eksekutif perusahaan saat ini tidak hanya sebatas pada bagaimana membangun AI, tetapi juga bagaimana memastikan penggunaannya aman dan berkelanjutan.
Meskipun demikian, IBM memproyeksikan manfaat ekonomi dari AI akan sangat besar. Perusahaan teknologi ini memperkirakan AI mampu mendorong efisiensi produktivitas lebih dari 40% pada tahun 2030. Peningkatan ini juga berpotensi mendorong investasi teknologi hingga 150%.
Lebih lanjut, studi IBM menemukan bahwa 70 persen eksekutif yang disurvei menyatakan niat untuk menginvestasikan kembali keuntungan yang diperoleh dari efisiensi tersebut guna menciptakan inovasi produk baru.
Ikuti Detak.news
