— Penggelaran Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) menjadi tren bagi perusahaan telekomunikasi dan digital di Indonesia guna mengakselerasi konektivitas digital. Terbaru, PT Telkom Indonesia Tbk melalui PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin) bekerja sama dengan BW Digital berhasil mendaratkan kabel bawah laut yang menghubungkan Batam, Indonesia, dengan Singapura di Nongsa Digital Park (NDP), Batam, Kepulauan Riau.

Kabel bawah laut yang dinamai Nongsa Changi Cable (NCC) ini memiliki panjang sekitar 50 kilometer dan kapasitas 24 fiber pairs. Kehadiran NCC dianggap sebagai tonggak penting untuk memperkuat konektivitas digital Indonesia dengan kawasan regional, sekaligus mendukung pengembangan infrastruktur digital yang berdaya saing.

Sebelumnya, PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) juga telah menyelesaikan Factory Acceptance Testing (FAT) untuk perangkat wet plant pada proyek kabel laut Moratelindo International Cable System-3 (MIC-3). MIC-3 bertujuan mendorong interkoneksi infrastruktur digital di koridor Singapura–Johor–Batam, mempercepat pertumbuhan ekonomi digital, serta mendukung perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pusat data di Asia Tenggara.

PT Ketrosden Triasmitra Tbk, melalui anak usahanya PT Jejaring Mitra Persada (JMP) dan bekerja sama dengan PT Mora Telematika Indonesia, juga telah resmi memulai penggelaran SKKL Rising 8. Kabel sepanjang 1.128,5 kilometer ini menghubungkan Jakarta-Batam-Singapura.

Dukungan Infrastruktur Digital

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto menyatakan bahwa transformasi digital Indonesia memerlukan dukungan infrastruktur nyata dan konektivitas yang semakin kuat. Ia menilai kehadiran NCC menjadi fondasi fisik bagi terbentuknya koridor digital baru yang menghubungkan Indonesia dan Singapura, sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai gerbang digital Indonesia.

“Kehadiran NCC diharapkan dapat memperkuat posisi strategis kedua negara dalam ekosistem dan rantai nilai digital global, sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya investasi, inovasi, dan aktivitas ekonomi baru berbasis teknologi,” kata Airlangga dalam keterangan persnya, Selasa (21/7/2026).

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menambahkan, NCC dibangun untuk memenuhi kebutuhan konektivitas berkapasitas tinggi dan berlatensi rendah, seiring pesatnya perkembangan layanan cloud, hyperscaler, kecerdasan artifisial (AI), serta interkoneksi data center di Asia Tenggara. “Melalui pengembangan infrastruktur digital yang berkelanjutan, Telkom Group berkomitmen memperkuat kedaulatan digital Indonesia sekaligus menghadirkan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi digital nasional,” ujar Dian.

Dian juga menekankan bahwa NCC merupakan wujud kolaborasi strategis Indonesia dan Singapura dalam membangun ekosistem digital yang lebih terhubung dan berdaya saing. “Infrastruktur strategis ini tidak hanya memperkuat konektivitas dan ketahanan digital Indonesia, tetapi juga memberikan keberagaman jalur dan konektivitas yang semakin kuat bagi Singapura sebagai hub digital regional, sehingga menciptakan manfaat bagi kedua negara,” ungkap Dian.

NCC adalah salah satu dari dua kabel bawah laut Batam–Singapura yang dikembangkan Telkom Group, bersama Indonesia Singapore Cable System (INSICA), untuk memperkuat konektivitas digital antara kedua negara.

Peran MORA dan KETR dalam Konektivitas

Chief Technology Officer MoraRepublic, Michael C. McPhail, menyatakan bahwa proyek kabel bawah laut MIC-3 merupakan salah satu inisiatif strategis perusahaan dalam memperkuat interkoneksi digital di kawasan. “Proyek kabel bawah laut MIC-3 merupakan inisiatif strategis utama dalam memperkuat interkoneksi digital regional,” kata Michael.

Menurut Michael, proyek ini akan menyediakan gerbang konektivitas berkapasitas tinggi yang menghubungkan Indonesia dengan Singapura, serta memungkinkan perluasan cakupan jaringan berkapasitas besar di masa depan melalui fleksibilitas branching yang telah disiapkan. “Kehadiran MIC-3 akan memberikan dorongan baru bagi pertumbuhan ekonomi digital di kawasan,” ujarnya.

MIC-3 dirancang dengan penggunaan dua 32FP branching unit terbaru dari HMN Tech yang dilengkapi dengan teknologi 16FP optical switch. Teknologi ini memungkinkan akses yang lebih fleksibel bagi dua sistem 16FP di masa mendatang, serta menyediakan skalabilitas untuk mengakomodasi pertumbuhan kebutuhan jaringan.

Direktur Utama PT Ketrosden Triasmitra Tbk, Titus Dondi, mengatakan penggelaran SKKL Rising 8 dengan CLV Bentang Bahari menandai era baru kemandirian Indonesia di sektor infrastruktur kabel laut. “Dengan kapasitas 25 terabytte per second (Tbps) per fiber pair serta kendali penuh atas operasional, kami optimistis proyek ini tidak hanya meningkatkan konektivitas digital Indonesia–Singapura, tetapi juga memposisikan Triasmitra sebagai pemain regional yang kompetitif dengan standar operasional kelas dunia,” kata Titus.

SKKL Rising 8 dihadirkan untuk menjawab kebutuhan bandwidth tinggi dan keandalan konektivitas antara Indonesia dan Singapura. Sistem ini juga berfungsi sebagai jalur alternatif, baik domestik maupun internasional, bagi penyelenggara Layanan Gerbang Akses Internet (NAP) eksisting, sehingga menyediakan redundansi yang krusial untuk menjaga stabilitas infrastruktur digital nasional.

Proyek ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital, yang menyatakan SKKL Rising 8 sebagai bagian dari misi Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran. “Komdigi menegaskan bahwa SKKL Rising 8 menjadi bagian integral dari rencana strategis nasional untuk meningkatkan penetrasi dan kualitas layanan akses digital, sekaligus mewujudkan kedaulatan dan kemandirian digital Indonesia,” jelas Titus.