— IBM, raksasa teknologi Amerika Serikat, telah mengumumkan peta jalan strategisnya yang dirancang untuk memandu berbagai organisasi dalam bertransformasi menjadi perusahaan yang sepenuhnya berbasis Kecerdasan Buatan (AI) pada tahun 2030. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dinamika pasar yang berkembang pesat, di mana ekonomi AI bergeser dari eksperimen yang terfragmentasi menuju tata kelola yang terkoordinasi dan terorkestrasi.

Dalam acara unggulan IBM THINK on Tour di Singapura, perusahaan memperkenalkan inovasi terbaru pada solusi AI dan pengelolaan hybrid cloud. Jajaran solusi ini mencakup generasi terbaru IBM watsonx Orchestrate untuk mengorkestrasi berbagai agen AI, IBM Confluent untuk penyediaan data real-time bagi AI, platform IBM Concert untuk mendukung operasional cerdas, IBM Sovereign Core untuk memastikan kemandirian operasional, serta IBM Bob, agen perangkat lunak AI yang dirancang untuk kebutuhan perusahaan.

Selain itu, IBM juga menyoroti kemajuan dalam teknologi komputasi kuantum, yang ditargetkan untuk memasuki pasar pada tahun 2029. Konferensi ini menjadi ajang pertemuan para pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, dan inovator untuk merumuskan arah transformasi perusahaan di masa depan, mencakup AI, AI agentik, dan komputasi kuantum, demi meningkatkan produktivitas, inovasi, dan keunggulan kompetitif.

Asia Pasifik Sebagai Pemimpin AI

General Manager IBM APAC, Hans Dekkers, menyatakan bahwa Asia Pasifik memiliki potensi besar untuk memimpin dalam persaingan perusahaan berbasis AI. “Kawasan ini telah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perbedaan regulasi, persyaratan kedaulatan data, hingga sistem hybrid yang kompleks dalam skala besar. Dengan menjadikan kompleksitas tersebut sebagai keunggulan strategis dan membangun AI yang sejak awal dirancang sesuai kebutuhan kedaulatan, berbagai organisasi di kawasan ini menjadi tolok ukur global dalam tata kelola dan penerapan AI tepercaya secara luas,” ujarnya.

Dekkers menambahkan bahwa organisasi yang akan mendominasi pada tahun 2030 adalah mereka yang mengintegrasikan AI di seluruh lini bisnis. “Keberhasilan akan bergantung pada tiga hal utama, yaitu AI yang tepercaya, data yang siap digunakan untuk AI, serta fondasi digital yang terbuka, hybrid, berdaulat, dan mampu mendukung penerapan dalam skala besar. Organisasi yang mampu membangun fondasi ini dengan baik akan melampaui tahap eksperimen dan menerapkan AI dengan lebih percaya diri, sehingga dapat meningkatkan kecepatan, kelincahan, dan ketahanan yang dibutuhkan untuk memimpin dalam ekonomi berbasis AI,” jelasnya.

Potensi Komputasi Kuantum dan Kolaborasi Industri

Commander SAF C4 and Digitalisation Command, Guo Jinghua, menekankan potensi komputasi kuantum dalam menyelesaikan persoalan perencanaan misi yang kompleks. “Karena itu, kami menilai penting untuk mulai terlibat sejak dini guna memahami peluang sekaligus keterbatasannya. Melalui kolaborasi dengan IBM, DIS dan DSTA membangun keahlian di bidang kuantum, memperkuat kemitraan dengan industri, serta mengeksplorasi penerapan teknologi baru untuk menjawab tantangan operasional di masa depan,” ungkapnya.

IBM juga menjalin kemitraan dengan Visionbay.ai dan Hon Hai Technology Group (Foxconn) untuk menjadikan AI sebagai industri digital baru di berbagai negara. Model bisnis Build-Operate-Localize ini bertujuan memperkuat kepemilikan lokal atas infrastruktur AI, mempercepat adopsi AI, serta mengembangkan talenta dan peluang ekonomi di seluruh ekosistem.

Transformasi Layanan Kesehatan dengan AI

Kerja sama IBM dengan Changi General Hospital menjadi contoh nyata transformasi layanan kesehatan melalui AI. Kolaborasi ini berfokus pada pengadaan teknologi AI dengan kemampuan analisis skenario secara real-time dan watsonx Orchestrate untuk orkestrasi alur kerja berbasis agen.

Adjunct Assistant Professor Jimmy Goh, Senior Consultant di Department of Emergency Medicine, Changi General Hospital, menjelaskan bagaimana AI, mixed reality, dan keahlian klinis dikombinasikan untuk pelatihan kesiapsiagaan insiden massal pediatrik. “Pelatihan ini memberikan evaluasi kinerja yang objektif, meningkatkan pengambilan keputusan, dan memperluas penerapan praktik terbaik di seluruh tim layanan kesehatan. Hal ini membantu tenaga klinis menjadi lebih siap, memberikan penanganan yang lebih cepat dan terkoordinasi, serta pada akhirnya menghadirkan layanan yang lebih aman, cerdas, dan personal bagi pasien—terutama ketika setiap detik sangat berarti,” tuturnya.