— Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi sorotan investor asing pada perdagangan Jumat (17/7/2026), ditutup menguat 3,85% ke level Rp 2.970. Perdagangan saham emiten bank besar ini mencatat volume 441,99 juta saham dengan frekuensi 64.990 kali, menghasilkan nilai transaksi Rp 1,30 triliun. Investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 267,69 miliar pada saham BBRI.

Sepanjang pekan sebelumnya, saham BBRI menunjukkan tren positif dengan kenaikan total mencapai 6,45%.

Menyikapi pergerakan tersebut, CGS International Sekuritas memasukkan saham BBRI ke dalam daftar saham pilihan untuk perdagangan Senin (20/7/2026). Broker efek ini merekomendasikan saham BBRI dengan status ‘spec buy’, menetapkan level support di 2.910 dan menyarankan cutloss jika menembus di bawah 2.850.

“Jika tidak break di bawah 2.910, potensi naik ke 3.030-3.090 short term,” papar CGS International Sekuritas dalam analisis teknikalnya untuk 20 Juli.

Sementara itu, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham BBRI dengan target harga berbasis Gordon Growth Model (GGM) sebesar Rp 4.010. Target harga ini mengindikasikan potensi keuntungan (cuan) saham BBRI masih sangat besar, mencapai 35%.

Target harga tersebut setara dengan rasio price to book value (P/B) sebesar 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada valuasi yang dianggap murah, dengan P/B 2026 sebesar 1,2 kali, sedikit di bawah level -2 standar deviasi (-2SD) yang berada di 1,5 kali.

Potensi katalis positif bagi saham BBRI meliputi pertumbuhan kredit yang melampaui ekspektasi, disertai penyesuaian imbal hasil kredit yang moderat. Hal ini diharapkan dapat mendorong net interest margin (NIM) melampaui panduan 2026.

Selain itu, potensi cost of credit (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan, seiring dengan perbaikan kualitas aset, akan menjadi faktor penting bagi pertumbuhan laba BRI (BBRI) di tahun 2026. Peningkatan pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga diprediksi menjadi katalis utama bagi pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP).

Risiko utama yang perlu diwaspadai antara lain pertumbuhan kredit yang lebih lemah dari perkiraan, rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih tinggi dari estimasi, serta kenaikan pencadangan yang jauh lebih besar dari yang diantisipasi. Sentimen negatif domestik yang berkelanjutan dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berpotensi terus menekan sentimen pasar terhadap saham BBRI.