Detak.news — Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali menunjukkan performa positif dengan ditutup menguat 1,68% ke level Rp 3.020 pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026. Perdagangan saham ini melibatkan 393,56 juta lembar saham dengan frekuensi sebanyak 61.128 kali, menghasilkan nilai transaksi mencapai Rp 1,20 triliun. Investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 93,36 miliar pada saham BBRI.
Tren penguatan saham BBRI telah berlangsung sejak 15 Juli 2026, dengan kenaikan total 5,23% dalam sepekan terakhir, di mana investor asing mencatatkan net buy Rp 33,99 miliar.
CGS International Sekuritas mengemukakan bahwa penguatan saham BBRI sebesar 1,68% pada penutupan perdagangan kemarin, yang sempat mencapai 3,70% intraday, didorong oleh ekspektasi positif terhadap kinerja keuangan kuartal II 2026. Selain itu, perbaikan Net Interest Margin (NIM) ke depan turut menjadi katalis seiring dengan berlanjutnya penempatan dana oleh Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Analis CGS International Sekuritas memproyeksikan level resistance pertama saham BBRI di Rp 3.070 dan resistance kedua di Rp 3.120 untuk perdagangan Selasa, 21 Juli 2026. Sementara itu, level support pertama ditetapkan di Rp 2.980 dan support kedua di Rp 2.940.
Di sisi lain, JP Morgan turut menyematkan pandangan positif terhadap saham BBRI, bahkan melakukan upgrade rekomendasi dengan target harga yang moderat. Laporan riset JP Morgan menyoroti kekuatan bisnis BBRI dalam segmen kredit mikro yang berkontribusi besar terhadap profitabilitas perseroan. Meskipun sempat menghadapi tantangan akibat pemburukan aset yang menghambat profitabilitas, JP Morgan mencatat bahwa masalah tersebut kini mulai tertangani.
“Kini, masalah BBRI mulai diperbaiki, seiring perbaikan internal dan banyaknya program pemerintah yang menyasar masyarakat bawah,” tulis JP Morgan dalam risetnya, dikutip Senin (20/7/2026). JP Morgan menambahkan bahwa BBRI mungkin tidak dapat leluasa menaikkan biaya dana kepada nasabah, terutama untuk kredit dengan suku bunga tetap dan semi-tetap. Kendati demikian, perseroan berupaya menggenjot kredit korporasi.
Penurunan NIM BBRI, menurut JP Morgan, kemungkinan akan terjadi namun hal ini sudah diantisipasi oleh pasar, terutama setelah munculnya kabar mengenai penurunan imbal hasil pinjaman dari PNM.
Valuasi Murah dan Target Harga Baru
JP Morgan memprediksi konsensus pasar akan segera merevisi proyeksi kinerja keuangan BBRI. Berita ini, ditambah dengan valuasi saham yang dinilai murah saat ini yakni -2 standar deviasi (SD), diprediksi dapat menjadi katalis kuat untuk reli saham BBRI.
Secara fundamental, BBRI memiliki modal yang kuat untuk menopang pertumbuhan bisnisnya, yang berpotensi membuka jalan bagi pembagian dividen yang besar. Sejalan dengan analisis tersebut, JP Morgan meng-upgrade saham BBRI menjadi overweight dengan menetapkan target harga Rp 3.400. Target harga ini didasarkan pada Price to Book Value (PBV) wajar 1,2 kali, Return on Equity (ROE) 17,4%, risk free rate 7%, biaya modal 15,4%, dan terminal growth rate 7%.
Ikuti Detak.news
