— JAKARTA – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil mencatatkan kinerja positif pada kuartal II-2026, melampaui ekspektasi para analis. Kinerja ini mendorong munculnya rekomendasi dan penetapan target harga baru untuk saham BMRI.

Pada kuartal II-2026, Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp 15 triliun. Meskipun tercatat turun 2% secara kuartalan (qoq), angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Pertumbuhan laba ini didukung oleh lonjakan pendapatan berbasis komisi, efisiensi beban operasional (operating expenses/opex), serta penurunan beban pencadangan.

Faktor-faktor tersebut terbukti ampuh mengimbangi tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Secara kumulatif, laba bersih BMRI sepanjang semester I-2026 mencapai Rp 30,4 triliun, naik 24% yoy. “Realisasi tersebut telah mencapai 53% dari estimasi kami maupun konsensus pasar untuk tahun 2026, sehingga sedikit melampaui ekspektasi,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Nataniella Eva Kezia dalam risetnya.

NIM BMRI untuk segmen bank only (tidak termasuk anak usaha) tercatat sebesar 4,21%, turun 23 basis poin (bps) dibandingkan kuartal sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh imbal hasil kredit yang melemah 20 bps dan peningkatan biaya dana (cost of funds/CoF) sebesar 12 bps. Manajemen BMRI menjelaskan bahwa tekanan pada imbal hasil kredit terutama berasal dari penyaluran kredit korporasi baru kepada pihak berelasi, yang memberikan imbal hasil sekitar 120 bps lebih rendah dibandingkan portofolio kredit korporasi reguler.

Di sisi lain, pendapatan non-bunga perseroan tumbuh solid sebesar 33% yoy, didukung oleh pendapatan berulang maupun tidak berulang. Bank Mandiri juga mencatatkan pertumbuhan kredit yang kuat dengan biaya kredit (cost of credit/CoC) yang stabil. Meskipun kredit tumbuh 19%, beban pencadangan justru turun 2% dibandingkan kuartal sebelumnya, menjaga CoC tetap di kisaran 60 bps. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) terpantau stabil di level 0,98%.

Rasio kredit berisiko (loan at risk/LaR), yang mencerminkan cakupan kredit dengan potensi penurunan kualitas, mengalami perbaikan menjadi 5,83%, turun 19 bps dari kuartal sebelumnya. Manajemen BMRI mempertahankan panduan tahun 2026 untuk pertumbuhan kredit di kisaran 7-9%, CoC 0,6-0,8%, dan CIR (cost to income ratio) 40-41%.

Namun, panduan NIM kembali diturunkan menjadi 4,3-4,5% dari sebelumnya 4,5-4,7%, mencerminkan adanya tekanan berkepanjangan pada imbal hasil kredit. NIM konsolidasian diperkirakan turun menjadi 4,56%, melemah 32 bps dibandingkan tahun sebelumnya. Manajemen memprediksi NIM akan mencapai titik terendah pada kuartal III-2026 sebelum berangsur pulih.

Rekomendasi dan Target Harga Saham

Menyikapi kinerja positif tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham Bank Mandiri (BMRI) dengan target harga Rp 6.200. Target harga ini ditetapkan berdasarkan pendekatan inverse cost of equity (inverse CoE) lima tahun sebesar 11,6%, dengan asumsi pertumbuhan jangka panjang (long-term growth/LTG) sebesar 3%. Target harga tersebut mencerminkan rasio harga terhadap nilai buku pada nilai wajar (fair value price to book value/FV PBV) sebesar 1,8 kali.

Risiko yang perlu diperhatikan adalah potensi harga minyak yang tetap tinggi dalam jangka panjang, yang dapat menekan NIM dan kualitas aset. Untuk pandangan taktis dalam tiga bulan ke depan, BRI Danareksa Sekuritas menilai prospek saham BMRI berada dalam posisi netral.