— PT Astra International Tbk (ASII) memiliki potensi pertumbuhan signifikan di sektor energi terbarukan melalui kepemilikannya di PT Arkora Hydro Tbk (ARKO). Dengan pipeline proyek lebih dari 300 megawatt (MW) dan strategi Astra untuk mengembangkan bisnis sesuai ekosistem dan kapabilitasnya, investasi ini berpotensi menopang profitabilitas grup dalam jangka panjang.

Astra, melalui PT Energia Prima Nusantara yang merupakan anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR), menggenggam 26,55% saham Arkora per 30 Juni 2026. Posisi ini menjadikan Astra sebagai investor strategis yang turut berperan dalam menavigasi bisnis Arkora. Kehadiran dua perwakilan Astra di jajaran pengurus Arkora, Chinthya Theresa sebagai Komisaris dan Terry Tando sebagai Direktur, mencerminkan strategi Astra dalam mengembangkan portofolio bisnis yang terarah.

Saat ini, kapasitas Arkora yang terkontrak dengan PT PLN (Persero) baru mencapai 62,8 MW, sekitar 20,9% dari total pipeline 300 MW yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Ini berarti masih ada ruang sebesar 237,2 MW atau 79,1% dari total pipeline yang belum terutilisasi.

Head of Investor Relations Arkora Hydro, Nicko Yosafat, menyatakan bahwa perusahaan masih memiliki ruang untuk terus bertumbuh. Selama listrik menjadi kebutuhan dasar, Arkora akan terus relevan. Perusahaan berfokus pada ekspansi bisnis dengan mencari titik-titik potensial untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan mendapatkan kontrak baru perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dengan PLN.

“Jadi, saat ini kami masih mencari sungai-sungai, mencari kesempatan untuk bisa mendapatkan kontrak baru perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan PLN dan itu masih terus kami lakukan dengan mencari titik sungai potensial. Lalu, kami membuat studi kelayakannya (feasibility study),” ujar Nicko.

PLN menjadi satu-satunya pembeli listrik produksi Arkora. Namun, Arkora tetap terbuka untuk menjual ke pihak lain. Nicko tidak khawatir mengandalkan 100% arus kas dari PLN karena statusnya sebagai BUMN dan satu-satunya perusahaan listrik di Indonesia. Kontrak jual beli listrik yang ditandatangani antara Arkora dan PLN bersifat jangka panjang, mulai dari 15, 25, hingga 30 tahun.

Nicko melihat PLN sebagai satu-satunya off-taker listrik Arkora justru menjadi peluang. Kepercayaan PLN yang besar dalam membeli listrik Arkora menunjukkan keberlanjutan bisnis perseroan. Energi hidro yang dihasilkan Arkora bersifat baseload, sehingga produksi listrik stabil tanpa terganggu faktor eksternal, berbeda dengan energi surya yang bergantung pada cuaca atau energi bayu yang tergantung pada hembusan angin.

Risiko geografis atau iklim telah dimitigasi jauh sebelum Arkora membangun PLTA. Nicko mencontohkan di Poso, Sulawesi Tengah, studi kelayakan historis curah hujan dan kondisi sungai saat musim kering maupun hujan telah dilakukan. “Di Poso, Sulawesi Tengah, sebagai contoh. Sebelum membangun, kami sudah cek curah hujannya secara historis seperti apa. Kami juga lihat saat musim kering seperti apa. Apakah sungainya surut? Kalau surut seberapa surutnya? Kalau musim hujan, seberapa tinggi air sungainya? Karena kalau sampai banjir atau terlalu kering tidak bisa. Jadi, risiko-risiko itu ada, tapi dari awal sudah kami pelajari,” papar dia.

Potensi Energi Hidro Nasional

Pertumbuhan Arkora juga didukung oleh potensi energi hidro di Indonesia yang mencapai 95 GW, sementara tingkat utilisasi saat ini baru sekitar 8% atau 7,5 MW. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030 menargetkan pembangunan proyek pembangkit listrik total 40.575 MW, di mana 51,6% berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT). Dari proyek EBT tersebut, PLTA akan berkontribusi sebesar 44,3% atau 9.272 MW.

PLN juga berencana menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 100 GW hingga 2040, dengan 75% berbasis EBT. Pemerintah menargetkan bauran energi sekitar 21% pada tahun ini, yang sudah terealisasi 18,3% sepanjang Januari-Maret 2026. Nicko optimistis target net zero emission (NZE) 2060 dapat tercapai jika pemerintah menunjukkan political will yang kuat.

Saat ini, Arkora memiliki tiga proyek PLTA yang beroperasi: Cikopo II (7,4 MW), Tomasa (10 MW), dan PLTA Yaentu (10 MW). Dua proyek lainnya, Kukusan 2 (5,4 MW) dan Tomoni (10 MW), masih dalam tahap konstruksi dan ditargetkan beroperasi pada kuartal III-2025 dan 2026. Penyelesaian proyek ini diharapkan menyeimbangkan operasional dan keberlanjutan proyek hidro Arkora. Perseroan menargetkan ekspansi mencapai 228,6 GW tahun ini dan 257 GW pada 2027.