— JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berhasil mempertahankan kinerja positif hingga semester I-2026. Memasuki paruh kedua tahun ini, perseroan semakin mewaspadai sejumlah tantangan utama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, mengungkapkan bahwa arah kebijakan suku bunga masih menjadi faktor penentu kinerja industri perbankan hingga akhir tahun. “Pertama, arah suku bunga akan tetap menjadi fokus kami karena akan memengaruhi dinamika pendanaan untuk penyaluran kredit serta aktivitas ekonomi secara keseluruhan,” kata Riduan dalam konferensi pers, Kamis (23/7/2026).

Selain suku bunga, bank bersandi saham BMRI ini juga terus mencermati perkembangan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global yang dinilai berpotensi memengaruhi pasar keuangan maupun harga komoditas. Untuk menghadapi kondisi tersebut, Riduan menjelaskan bahwa perseroan mengedepankan pengelolaan risiko yang prudent guna menjaga ketahanan fundamental perusahaan sekaligus mendukung stabilitas sistem keuangan.

Lebih lanjut, perseroan akan terus mencermati perkembangan global maupun domestik, termasuk dinamika geopolitik dan ekonomi, serta mengantisipasi dampaknya terhadap pergerakan harga komoditas dan pasar keuangan. “Di tengah berbagai dinamika tersebut, kami tetap berkomitmen menjalankan fungsi intermediasi secara optimal melalui optimalisasi strategi pertumbuhan berbasis ekosistem, akselerasi transaksi dan transformasi digital yang berkelanjutan, serta peningkatan kualitas layanan yang semakin baik,” jelas Riduan.

Dari sisi kinerja profitabilitas, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan positif dengan meraup laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,41 triliun, tumbuh 24,4% secara tahunan (yoy) pada semester I-2026. Pertumbuhan laba ditopang oleh pendapatan bunga yang mencapai Rp72,9 triliun, naik 4,67% (yoy). Sementara, beban bunga justru membaik atau turun 1,23% (yoy) menjadi Rp25,06 triliun. Perbaikan tersebut mendorong pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perseroan tumbuh 8,05% (yoy) menjadi Rp47,84 triliun.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menambahkan, faktor pendorong pertumbuhan laba di antaranya berasal dari penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang kuat, tumbuh 17,1% (yoy), yang berhasil disalurkan dengan baik dengan pertumbuhan kredit secara bank only sebesar 19,9% (yoy). “Dengan pertumbuhan tersebut, tentunya menghasilkan pendapatan atau NII yang cukup baik, yaitu tumbuh sekitar 8%,” jelas Novita.

Tidak hanya dari sisi pendapatan bunga, pendorong pertumbuhan laba juga berasal dari fee based income, khususnya recurring fee based income. Kinerja ini terutama didorong oleh fee dari Livin’ by Mandiri yang melonjak 46%, fee dari Kopra by Mandiri yang tumbuh 22,8%, serta transaksi lain yang menghasilkan pertumbuhan fee sebesar 23%.

Dengan pencapaian volume bisnis, tingkat profitabilitas yang baik, serta fundamental yang kuat, Bank Mandiri berhasil membukukan laba sebesar Rp30,4 triliun. “Kami yakin bahwa dengan fundamental yang kuat, strategi bisnis yang terarah, serta disiplin dalam pengelolaan risiko, Bank Mandiri optimistis dapat terus menjaga pertumbuhan secara berkelanjutan pada tahun-tahun yang akan datang,” jelas Novita.

Selain itu, beban provisi bank berlogo pita emas ini mengalami penurunan sebesar 12,5% (yoy) menjadi Rp5,12 triliun pada akhir Juni 2026. Penurunan biaya pencadangan tersebut semakin memperbesar laba operasional perseroan menjadi Rp39,06 triliun, melonjak 26% (yoy).

Intermediasi

Dari sisi fungsi intermediasi, penyaluran kredit BMRI dan entitas anak mencapai Rp1.677,45 triliun, tumbuh tinggi 18,8% (yoy) per Juni 2026. Direktur Commercial Banking Bank Mandiri, Totok Priyambodo, mengatakan, outstanding kredit komersial secara bank only tercatat mencapai Rp343 triliun per Juni 2026 atau meningkat 15,1% (yoy).

Pihaknya terus mengarahkan pembiayaan kepada sektor-sektor yang memiliki efek berganda terhadap perekonomian nasional, termasuk perkebunan, hilirisasi, transportasi dan logistik, energi, serta berbagai sektor produktif lainnya. “Dengan pendekatan tersebut, kami berharap pertumbuhan kredit tidak hanya mendorong ekspansi usaha nasabah, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi nasional secara lebih merata,” tutur Totok.

Pertumbuhan kredit, termasuk pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta komersial, merupakan wujud komitmen Bank Mandiri dalam memperkuat fungsi intermediasi dan mendukung aktivitas usaha nasabah. Komitmen ini turut diwujudkan melalui pemberian suku bunga kredit yang relatif ringan dan kompetitif. Hal tersebut tercermin dari penurunan Net Interest Margin (NIM) Bank Mandiri yang tercatat sebesar 4,37% per Juni 2026, dibandingkan 4,63% pada Juni 2025.

Penurunan NIM mencerminkan tekanan pada imbal hasil pinjaman. Secara konsolidasi, NIM turun ke level 4,56% pada semester I-2026 terutama karena penurunan imbal hasil kredit akibat penyesuaian harga yang berkelanjutan. Bahkan, di tengah tantangan suku bunga tinggi, perseroan menurunkan proyeksi NIM di akhir tahun menjadi sekitar 4,3-4,5% dari sebelumnya 4,5-4,7%.

Likuiditas yang lebih ketat terus memberikan tekanan ringan pada biaya pendanaan. Terdapat peningkatan biaya dana (cost of fund) deposito bank only menjadi 2,04% dari 1,97% pada kuartal I-2026, terutama didorong oleh bunga deposito berjangka yang lebih tinggi.

Di sisi penghimpunan dana, BMRI menghimpun DPK sebesar Rp1.763,17 triliun secara konsolidasi, tumbuh 17,1% (yoy). Pertumbuhan DPK masih ditopang oleh dana murah (CASA) yang naik 5,69% (yoy) menjadi Rp1.219,91 triliun. Di tengah ketatnya persaingan likuiditas, Bank Mandiri juga mencatat lonjakan dana deposito. Saldo deposito meningkat 54,4% menjadi Rp543,26 triliun, hal ini seiring adanya penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah di bank-bank pelat merah.

Tidak hanya tumbuh dari sisi volume bisnis, perseroan juga mampu mempertahankan kualitas aset dengan baik. Tercermin dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross yang berada di kisaran 0,98% dengan coverage ratio 242%.