— Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan penguatan signifikan, menembus level US$ 65.000 pada perdagangan Selasa (21/7/2026) pagi. Penguatan ini didukung oleh sentimen positif dari Strategy, perusahaan pemegang Bitcoin terbesar di dunia, yang berhasil menghimpun dana US$ 263 juta melalui penjualan saham biasa. Kenaikan ini memicu prediksi dari sejumlah analis bahwa Bitcoin berpotensi melaju menuju US$ 70.000.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 06.45 WIB, kapitalisasi pasar kripto global terpantau melesat 0,8% menjadi US$ 2,23 triliun dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) hari ini naik 0,78% ke level US$ 65.178,33 per koin. Sementara itu, Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar juga terkerek naik 1,4%. Ethereum melonjak 1,54% ke US$ 1.900, namun Binance (BNB) mengalami penurunan tipis 0,01% ke US$ 570.

Dikutip dari CoinTelegraph, harga Bitcoin (BTC) menunjukkan ketahanan di tengah gejolak pasar keuangan global. Aset kripto terbesar di dunia itu berhasil bertahan di atas US$ 65.000 dan mulai menunjukkan pergerakan yang berbeda (decoupling) dari pasar saham. Pasar saham, khususnya sektor kecerdasan buatan (AI), tengah tertekan aksi ambil untung.

Dalam sepekan terakhir, indeks Nasdaq-100 sempat turun ke bawah 28.800, level terendah dalam lima pekan, karena investor melepas saham-saham teknologi yang dinilai sudah terlalu mahal. Di tengah tekanan tersebut, Bitcoin justru menguat dan kembali menembus US$ 65.000 pada awal pekan.

Langkah Strategy menghimpun dana US$ 263 juta meningkatkan kas perusahaan menjadi sekitar US$ 3,22 miliar. Hal ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi aksi jual Bitcoin yang sebelumnya sempat menghantui investor terkait kewajiban pembayaran dividen tahunan senilai US$ 1,76 miliar kepada pemegang saham preferen serta utang konversi sebesar US$ 2,6 miliar yang akan jatuh tempo pada 2028 dan 2029.

Pasar Masih Waspada

Meskipun demikian, pelaku pasar derivatif masih bersikap hati-hati. Tingkat funding rate kontrak berjangka perpetual Bitcoin bertahan di kisaran 8%, level netral yang tidak berubah dibandingkan pekan lalu. Angka di atas 12% biasanya mencerminkan optimisme tinggi terhadap kenaikan harga.

Indikator 30-day options delta skew masih berada di 13%, mengindikasikan investor institusi dan pelaku pasar besar masih lebih banyak membeli opsi lindung nilai (put) dibandingkan opsi beli (call). Meskipun membaik dibandingkan pekan lalu yang mencapai 19%, kondisi ini menunjukkan kepercayaan terhadap reli lanjutan masih terbatas.

Di sisi lain, tekanan pada saham-saham AI turut meningkatkan sikap hati-hati investor. Pelemahan saham IBM, Oracle, Arm, Intel, hingga SanDisk terjadi bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor lima tahun ke 4,33%, dari 4,22% dua pekan sebelumnya. Kenaikan yield ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan fiskal yang lebih ekspansif di tengah meningkatnya beban utang pemerintah AS.

Ketegangan geopolitik juga kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump berjanji membalas serangan rudal Iran yang menewaskan personel militer AS di Yordania. Kondisi ini berpotensi meningkatkan volatilitas aset berisiko.

Meski sentimen global masih penuh tantangan, kemampuan Bitcoin bertahan di atas US$ 65.000 memperkuat pandangan bahwa aset digital tersebut mulai melepaskan ketergantungannya terhadap pergerakan pasar saham. Jika laporan kinerja emiten, khususnya sektor AI, kembali mengecewakan, sejumlah analis menilai Bitcoin berpeluang melanjutkan reli menuju US$ 70.000.